Opini
Opini: Pancasila Abadi dalam Spirit Flobamora
Inti dari Hari Kesaktian Pancasila adalah kemauan kolektif untuk bersatu, sebagaimana termaktub dalam Sila Persatuan Indonesia.
Oleh: Inosensius Enryco Mokos
Dosen Ilmu Komunikasi dan Filsafat ISBI Bandung
POS-KUPANG.COM - Tanggal 1 Oktober 2025, kita bangsa Indonesia merayakan Hari Kesaktian Pancasila, sebuah peringatan yang melampaui seremoni formal.
Peringatan ini adalah penegasan kembali bahwa Pancasila, sebagai dasar negara, telah teruji dan tak tergantikan, dari upaya historis Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI) tahun 1965 yang berusaha menggantinya dengan ideologi komunisme, masih bertahan hingga saat ini dan akan terus bertahan.
Peristiwa kelam tersebut (G30S/PKI) menjadi landasan historis yang mengajarkan bangsa Indonesia bahwa persatuan nasional memerlukan benteng falsafah-ideologis yang kokoh.
Jika ideologi komunis gagal karena bertentangan dengan fitrah ketuhanan dan kemanusiaan bangsa, maka Pancasila berhasil karena ia berakar pada kearifan lokal yang telah berusia ribuan tahun.
Baca juga: Cegah Degradasi Pancasila, Penataran P4 Perlu Dihidupkan Kembali
Di tengah kemajemukan Indonesia, benteng itu terwujud secara nyata, bukan hanya di gedung parlemen, tetapi dalam denyut nadi kehidupan masyarakat adat.
Di sinilah Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dikenal dengan akronim penuh kasih Pulau Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor, dan pulau-pulau lainnya), tampil sebagai etalase hidup Bhinneka Tunggal Ika, menunjukkan bagaimana Sila Ketiga (Persatuan) dan Sila Pertama (Ketuhanan) diresapi melalui tradisi lokal yang sakral dan mengikat, menjadikannya pilar utama Kesaktian Pancasila.
Etika Kosmis Flobamora
Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah fondasi spiritual yang membentuk karakter bangsa dan menjadi prasyarat bagi persatuan, sebab pengakuan akan Tuhan melahirkan etika sosial.
Di Flobamora, pengakuan terhadap kekuatan transenden ini tidak terbatas pada agama formal, tetapi merasuk ke dalam kearifan lokal yang disebut "budaya religius" atau kepercayaan asli.
Hal ini terbukti nyata di Sumba melalui upacara Mane'ek yang sakral. Mane'ek adalah ritual tahunan yang dilakukan oleh penganut kepercayaan Marapu untuk membersihkan kampung dan menolak bala, memastikan keseimbangan alam dan sosial tetap terjaga.
Dalam ritual ini, keterlibatan seluruh warga, tanpa memandang afiliasi agama modern (Kristen atau Islam), menunjukkan bahwa pengakuan terhadap Marapu (nenek moyang yang diyakini sebagai perantara dengan Tuhan/Pencipta) berfungsi sebagai payung spiritual komunal yang mengikat.
Di Flores, ritus Penti adalah upacara adat besar yang menandai akhir tahun pertanian dan syukuran.
Ritus ini bukan sekadar perayaan panen, melainkan bentuk pengakuan spiritual totalitas, yang memandang Tuhan (atau Gae Dewa dalam bahasa Ngada) sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati melalui harmoni dengan alam dan sesama.
Analogi serupa ditemukan di Timor, di mana masyarakat Dawan memuliakan Uis Neno (Tuhan Penguasa Langit) dan Uis Pah (Tuhan Penguasa Bumi).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Inosensius-Enryco-Mokos.jpg)