Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Belajar dari Anomali Cuaca dan Iklim di Nusa Tenggara Timur

Seperti memompa uap air lebih banyak ke wilayah Indonesia, termasuk sebagian NTT sehingga awan hujan bisa terbentuk di tempat yang seharusnya kering.

Editor: Dion DB Putra
SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI 

Kabupaten Kupang (sekitar Lelogama), Kabupaten Sabu Raijua (sekitar Stasiun Meteorologi Tardamu), dan Kabupaten Sumba Timur (sekitar Stasiun Meteorologi Waingapu, Kawangu, Kanatang, Lambanapu, Rambangaru dan Kamanggih).

Prediksi Selanjutnya: Hujan dan Angin Kencang!

Lalu, bagaimana dengan 10 hari ke depan? Stasiun Klimatologi NTT memperingatkan kita untuk tetap siaga. 

Periode Dasarian II September (11–20 September) adalah masa transisi yang dinamis. 

Umumnya, wilayah NTT diprediksi akan mengalami curah hujan
kategori Rendah (0–20 mm/dasarian) dengan peluang terjadinya sebesar 71-100 persen.

Namun, curah hujan kategori Menengah (51-100 mm/das) diprediksi akan terjadi di sebagian besar Kabupaten Manggarai Barat, sebagian besar Kabupaten Manggarai, dan sebagian kecil Kabupaten Manggarai Timur, dengan peluang sebesar 41-80 persen.

Selain itu, BMKG-Stasiun Meteorologi El Tari juga mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk sejumlah wilayah. 

Pada 11 September, potensi hujan disertai petir dan angin kencang diprediksi terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada, sementara angin kencang berpotensi terjadi di Sabu Raijua. 

Pada 12 September 2025, angin kencang diprediksi  terjadi di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua. 

Sehari setelahnya, pada 13 September, hujan disertai petir dan angin kencang diprediksi kembali terjadi di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo. 

Peringatan ini bukan sekadar ramalan biasa. Ini adalah hasil dari analisis mendalam yang melibatkan puluhan variabel dan model statistik canggih, yang harus kita tanggapi dengan serius.

Waspada Dua Potensi Ancaman Sekaligus

Anomali cuaca ini menimbulkan dua  ancaman yang saling berkaitan. Ancaman pertama adalah dampak kekeringan. 

Petani di NTT telah melaporkan 689 hektare sawah padi rusak akibat kekurangan air. 

Kekeringan juga membawa risiko, seperti penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Kupang akibat udara yang kering dan
panas. 

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved