Rabu, 8 April 2026

Opini

Opini: Belajar dari Anomali Cuaca dan Iklim di Nusa Tenggara Timur

Seperti memompa uap air lebih banyak ke wilayah Indonesia, termasuk sebagian NTT sehingga awan hujan bisa terbentuk di tempat yang seharusnya kering.

Editor: Dion DB Putra
SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI 

Oleh: Hamdan Nurdin
Climate Forecast - Stasiun Klimatologi NTT

POS-KUPANG.COM - Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin di tengah teriknya musim kemarau yang sudah berlangsung berbulan-bulan, tiba-tiba langit berubah gelap dan hujan deras mengguyur? 

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), fenomena inilah yang sedang terjadi.
Sebagian wilayah masih berjuang melawan kekeringan yang sudah mencapai 94 hari, membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. 

Namun, di saat yang sama, beberapa daerah justru diguyur hujan lebat yang memicu banjir bandang, seperti yang dilaporkan terjadi di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo.

Kondisi yang bertolak belakang ini bukanlah kebetulan. Ini adalah potret nyata dari anomali iklim yang harus kita pahami. 

Baca juga: Opini: Merdeka Kedaulatan Pangan, Antara Kedaulatan dan Iklim

Artikel ini hadir bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengajak kita semua menjadi lebih peka dan waspada terhadap " kejutan" alam yang semakin tidak terduga.

Ada Apa di Balik Layar?

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat apa yang terjadi di ‘dapur’ iklim global. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa ada dua fenomena besar yang berperan: Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño-Southern Oscillation (ENSO). 

Sederhananya, pada Dasarian I September 2025 (tanggal 11-20) ini, kedua fenomena itu sedang berada di fase negatif. 

Bayangkan, kondisi ini seperti “memompa” uap air lebih banyak ke wilayah Indonesia, termasuk sebagian NTT sehingga awan hujan bisa terbentuk di tempat yang seharusnya kering. 

Data BMKG menunjukkan betapa mencoloknya anomali ini: dari 100 wilayah di Indonesia, sekitar 70 di antaranya justru mengalami hujan di atas normal pada awal September 2025.

Secara lebih rinci, analisis curah hujan Stasiun Klimatologi NTT untuk Dasarian I September 2025 menunjukkan bahwa secara umum wilayah NTT mengalami curah hujan dengan kategori Rendah (0-50 mm/dasarian). 

Namun, beberapa wilayah kecil, seperti sebagian kecil Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Ende, tercatat mengalami curah hujan dengan kategori Tinggi (151-300 mm/dasarian). 

Selain itu, meskipun hujan sempat turun, beberapa wilayah di NTT masih
mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) yang sangat panjang, bahkan ekstrem (>60 hari), termasuk di Kabupaten Ende (sekitar Ranokolo), Kabupaten Sikka (sekitar Magepanda), Kabupaten Lembata (sekitar Wairiang), Kota Kupang (sekitar Fatubena), Kabupaten Timor Tengah Utara (sekitar Lurasik); 

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved