Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Belajar dari Anomali Cuaca dan Iklim di Nusa Tenggara Timur

Seperti memompa uap air lebih banyak ke wilayah Indonesia, termasuk sebagian NTT sehingga awan hujan bisa terbentuk di tempat yang seharusnya kering.

Editor: Dion DB Putra
SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI 

Ancaman kedua adalah dampak dari hujan yang tiba-tiba. Tanah yang sudah lama kering menjadi keras dan sulit menyerap air. 

Akibatnya, air hujan yang turun langsung mengalir di permukaan, memicu banjir bandang dan tanah longsor. 

Kondisi ini membuat masyarakat yang sudah kekurangan air bersih akibat kemarau, kini juga harus menghadapi masalah kelebihan air akibat banjir.

Mari Bergerak Bersama

Menghadapi tantangan ini, ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan.

• Jadilah ‘detektif’ cuaca pribadi: Jangan hanya menunggu kabar, tapi proaktif mencari informasi. Unduh aplikasi Info BMKG atau ikuti akun media sosial mereka.

Dengan begitu, kita bisa mendapatkan peringatan dini secara langsung.

• Hemat air: Ingat, meskipun ada hujan, kekeringan masih mengintai. Gunakan air seperlunya dan jangan boros.

• Waspadai kebakaran: Cuaca terik yang silih berganti dengan hujan lebat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. 

Jangan sembarangan membakar sampah, apalagi di dekat area kering.

Anomali cuaca di NTT ini adalah cerminan dari pola iklim global yang semakin tidak menentu. Ini bukan hanya tugas pemerintah atau BMKG. Ini adalah urusan kita bersama.

Dengan memahami dan bersiap, kita bisa mengubah ancaman menjadi kewaspadaan, dan bersama-sama menjaga alam kita. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved