Opini
Opini: Joko Widodo, Dedy Mulyadi dan Feodalisme
Ia menyebut ini sebagai "sistem yang tidak adil" karena hanya segelintir orang yang bisa menikmati keuntungan.
Mereka pemimpin bukan hanya memerintah atau menjaga tahta tetapi bersama rakyat dan tahu serta memahami kerinduan orang orang kecil atau sederhana.
Kemampuan dan kekuatan itu, dipahami dan dilakukan, karena sudah belajar dan hidup sebagai masyarakat biasa. Dan cara itu sulit bagi pemimpin dengan latar belakang feodalisme.
Jadi Jokowi dan Dedi Mulyadi, dalam konteks tertentu, adalah kritik bahkan perlawanan terhadap kepemimpinan feodal untuk Indonesia.
Pertama, Indonesia dengan mayoritas petani bahkan miskin, butuh pemimpin yang bisa dekat, tahu persoalan dan mampu memberi solusi bagi rakyat.
Kedua, calon atau pemimpin dari masyarakat sipil, non-feodal, perlu apresiasi masyarakat dan dikritik bila tidak bijak.
Ketiga, demi kemajuan dan perkembangan wilayah atau bangsa, sesuai konsep feodalisme diatas, tinggalkan spirit kepemimpinan yang demikian. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.