Opini
Opini: Joko Widodo, Dedy Mulyadi dan Feodalisme
Ia menyebut ini sebagai "sistem yang tidak adil" karena hanya segelintir orang yang bisa menikmati keuntungan.
Ada dua figur pemimpin di Indonesia Jokowi dan Dedy Mulyadi. Dua figur yang populer.
Jokowi adalah presiden ke-7 Indonesia yang memimpin selama dua periode. Wali Kota Solo 2005 dan 2010. Gubernur Jakarta 2012. Presiden 2014-2024.
Dedy Mulyadi; DPRD Purwakarta 1999-2004, Wakil Bupati Purwakarta 2003, Bupati Purwakarta dua periode. Sekarang Gubernur Jawa Barat periode 2025-2030.
Latar belakang Jokowi adalah anak pengusaha dan penjual kayu dan bambu di sekitar bantaran kali Karanganyar, Solo. Jokowi jauh dari kata mewah.
Bapaknya bernama Noto Mihardjo dan Ibu bernama Sujiatmi. Keluarga Jokowi bisa dikatakan keluarga yang kurang mampu khususnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti kesulitan membayar uang sekolah, kesulitan mencari makan, dan lain lainnya.
Jokowi di masa mudanya, membantu ayahnya yang bekerja sebagai tukang kayu.
Kadang setelah pulang sekolah, ikut menagih pembayaran kepada pelanggan yang sudah membeli kayu dan membantu menaikkan kayu yang sudah dibeli oleh pelanggannya ke atas becak atau gerobak.
Bersama keluarga, dia pernah mengalami penggusuran rumah kediamannya.
Dedy Mulyadi juga adalah masyarakat biasa. Ayahnya bernama Sahlin Ahmad Suryana dan ibu Bernama Karsiti. Bapaknya pensiunan tentara prajurit kader dengan usia karier 28 tahun.
Ayahnya bertugas menjaga kebun karet dan setelah merdeka diberi tempat penjagaan. Dan ayahnya meninggal lantaran sakit.
Menariknya kedua orang ini menjadi pemimpin yang disukai dan dicintai oleh masyarakat Indonesia. Ini fakta.
Mereka berulang-ulang menjadi pemimpin di berbagai level. Tanpa mengingkari kekurangan manusiawi dan siasat politik lainnya, mereka berdua didukung dan dicintai mayoritas masyarakat Indonesia.
Perlu dikatakan masyarakat dukung, menjadikan mereka pemimpin, karena ada yang baik dan bagus dilakukan. Masyarakat percaya karena ada bukti yang baik dan benar.
Apanya? Satu hal dari banyak hal, mereka adalah pemimpin yang tidak sulit dan gampang hadir dan ada di tengah masyarakat teristimewa yang kecil, orang orang sederhana dan para petani.
Gampang blusukan, masuk gorong gorong atau turun lapangan. Mereka dekat dan tidak jijik dengan petani dan orang sederhana.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.