Opini
Opini: Selubung Infrastruktur dan Kemerdekaan Sejati, Membaca Sabu Raijua
Apakah angka-angka proyek tersebut sekadar hiasan laporan, atau sungguh menghadirkan kemerdekaan yang membebaskan?
Oleh : John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT yang berkarya di Sabu Raijua - Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Pembangunan infrastruktur di Sabu Raijua kembali menjadi sorotan.
Reservoir air minum, jalan penghubung desa, hingga wacana industrialisasi garam disebut-sebut sebagai capaian besar pemerintah daerah.
Namun di balik angka-angka yang dipamerkan, masih tersisa pertanyaan mendasar: apakah semua itu benar-benar menyentuh kehidupan rakyat?
Apakah angka-angka proyek tersebut sekadar hiasan laporan, atau sungguh menghadirkan kemerdekaan yang membebaskan?
Baca juga: Opini: Drama BBM Sabu Raijua, Antrean Panjang Solusi Pendek
Di sinilah refleksi dari Surat Paulus dalam 2 Korintus 3:1–18 menemukan relevansinya.
Paulus menegaskan bahwa “huruf mematikan, tetapi Roh memberi hidup.” Kritik tajam ini menjadi kaca pembesar untuk menilai apakah pembangunan di pulau kecil ini sungguh menjadi roh yang menghidupkan rakyatnya, atau justru selubung yang menutupi wajah penderitaan.
Huruf yang Mematikan - Roh yang Menghidupkan
“Huruf mematikan, tetapi Roh memberi hidup” (2 Kor. 3:6). Kalimat Paulus ini sesungguhnya ditujukan kepada jemaat Korintus untuk menjelaskan bahwa hukum Taurat—dengan segala huruf tertulisnya—tak mampu memberi kehidupan sejati.
Hanya Roh Tuhan yang mengubah hati dan membebaskan manusia dari belenggu hukum kaku.
Namun jika kita tarik ke konteks Kabupaten Sabu Raijua hari ini, perkataan Paulus seperti sedang diarahkan pada papan-papan proyek dan laporan pembangunan kita.
Betapa banyak huruf dan angka tertulis dengan tinta APBN maupun APBD: jalan 500 meter di Keduru–Bolou, reservoir 100 m⊃3; di Eilode, produksi garam hingga 300 ribu ton per tahun.
Semua angka itu tampak indah, menggiurkan, bahkan bisa menjadi kebanggaan dalam rapat evaluasi.
Tetapi apakah ia sungguh menghidupkan rakyat? Apakah ia menjadi roh yang memberi kemerdekaan?
Selubung Infrastruktur: Antara Papan Proyek, Wajah Rakyat dan Antrian BBM
John Mozes Hendrik Wadu Neru
Kabupaten Sabu Raijua
Antrean BBM
Opini Pos Kupang
infrastruktur
Kemerdekaan
Pendeta GMIT
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
| Opini - Suanggi Dalam Pertarungan Pengetahuan: Antara Keyakinan Lokal dan Rasionalitas Moderen NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru4.jpg)