Opini

Opini: Joko Widodo, Dedy Mulyadi dan Feodalisme

Ia menyebut ini sebagai "sistem yang tidak adil"  karena hanya segelintir orang yang bisa menikmati keuntungan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Romo Polikarpus Mehang Praing, Pr 

Ia menyebut ini sebagai "sistem yang tidak adil"  karena hanya segelintir orang yang bisa menikmati keuntungan. 

Menurut Rousseau, feodalisme bertentangan dengan kesetaraan dan kebebasan asli manusia. 

Sistem feodalisme menempatkan kelas atas sebagai penguasa dan kelas bawah sebagai subjek yang harus taat pada mereka. Ini melawan prinsip-prinsip kesetaraan dan kebebasan dalam sistem sosial.

Karl Marx, filsuf abad ke-19, menganggap feodalisme sebagai bentuk masyarakat yang melelahkan sebelum penjajahan kapitalis. 

Marx berpendapat bahwa sistem feodalisme menciptakan bencana ekonomi karena upah yang diterima pekerja sangat sedikit dan sebagian besar pendapatan dihasilkan oleh tuan tanah, pemilik tanah. 

Produksi dijalankan oleh rakyat jelata, sedangkan tanah dan peralatan dikuasai oleh tuan tanah. Oleh sebab itu, Marx, meminta rakyat jelata memperjuangkan hak-hak mereka. 

Menurut Marx ada konsekuesi perpanjangan sistem feodalisme pada kapitalisme. Ia memberi konsep supaya kelas pekerja bersatu dan memberontak melawan kaum borjuis atau pemilik modal. 

Marx berpendapat bahwa feodalisme bukan hanya memperburuk ekonomi tetapi menjadi perjuangan kelas.

Oleh karena itu, bisa disimpulkan, sistem feodalisme, yang eksis dalam kemimpinan berbangsa dan bernegara adalah hal sulit untuk diterima. 

Atau pemimpin–pemimpin, yang lahir dari sistem feodal, sulit mengeksekusi spirit kepemimpinan yang merakyat atau berpihak untuk kesejahteraan rakyat kecil, tidak bisa mendekati dan menyatu dengan orang kecil, tidak bisa hidup ditengah rakyat yang susah. 

Mereka tidak tahu kesusahan orang kecil bahkan memeras rakyat kecil dan miskin.

Indonesia, dengan penduduk mayoritas petani, sulit beradaptasi bahkan tidak cocok dengan bentuk kepemimpinan ini. 

Bangsa, dengan masyarakat demikian, lebih merindukan pemimpin yang hadir di tengah tengah mereka; duduk bersama, turun ke sawah dan “mandi lumpur” bersama mereka. 

Itu berat, tidak mungkin dan mustahil dilakukan pemimpin dari kalangan feodal, bangsawan

Spirit mereka, seperti konsep di atas; dilayani bukan melayani. Mereka terbiasa memerintah dan menyuruh hamba hamba atau budak budak, duduk menjaga tahta dan istana, dijaga dan dikawal pengawal dan tidak bisa dikritik oleh siapapun karena kehormatan mereka sebagai bangsawan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved