Opini
Opini: Analgesik Politik, Strategi Politik Peralihan
Rasa sakit kehilangan semua referensi terhadap kekuasaan dan dominasi. Hal ini menjadi tidak lagi dipolitisasi dan menjadi masalah medis.
Namun tanpa perlu adanya paksaan dan tekanan dari luar, ia mengeksploitasi dirinya sendiri dengan sukarela, dengan keyakinan bahwa ia sedang memuaskan dirinya sendiri.
Kebebasan di sini tidak ditekan, tetapi dieksploitasi oleh subjek sendiri. Keharusan untuk berbahagia menciptakan tekanan yang lebih dahsyat daripada keharusan untuk taat.
Byung-Chul Han menunjukkan bahwa fobia juga terjadi di dunia politik. Politik represi dan kekerasan digalakkan agar para warga masyarakat menyetujui, sepakat dan tidak mengkritik kebijakan politik.
Kebijakan politik dengan praktik politk peralihan isu dan represi dirampung ke dalam rona paliatif, selanjutnya menghilangkan seluruh kevitalannya.
Tidak adanya kebijakan alternatif dalam politik, bagi Byung-Chul Han, merupakan suatu analgesik politik: alih-alih berdebat dan bertarung ide dengan mengajukan argumen-argumen yang lebih baik, justru menghasilkan tekanan dari sistem.
Ini dipropaganda dan ditekankan oleh gerakan pascademokrasi, yang merupakan sebuah wajah demokrasi paliatif.
Bagi Byung-Chul Han, “politik paliatif tidak mampu memiliki visi atau melakukan reformasi mendalam yang mungkin menyakitkan”.
Politik paliatif ingin mendorong analgesik yang memiliki efek sementara dan tidak melakukan apa-apa selain menutupi disfungsi dan ketidaksetaraan sistematis.
Politik paliatif tidak memiliki keberanian untuk menghadapi rasa sakit politik, dan memvaksin virus korupsi, dan nepotisme oligark neoliberal.
Dalam rezim neoliberal, kekuasaan juga mengambil bentuk positif. Rezim politik menciptakan fobia politik lewat penyebaran informasi hoaks, peralihan isu politik (politik peralihan), dan pengakuan secara terbuka atas neoliberalisme sebagai preferensi politik demi perkembangan dan kemajuan negara—yang sebetulnya, bagi perkembangan dan kemajuan bisnis oligarkinya.
Rezim politik beroperasi dengan cara yang menggoda dan permisif. Karena menyamar sebagai kebebasan, ia lebih tampak terselubung daripada kekuasaan disiplin yang represif.
Pengawasan juga mengambil bentuk yang elegan. Kita terus-menerus didorong untuk mengomunikasikan kebutuhan, keinginan, dan preferensi kita.
Namun komunikasi total selalu dibarengi pengawasan total, kontrol seluruh konsolidasi Gerakan demokratis, dan masyarakat transparansi berakhir menjadi pengawasan panoptik.
Kebebasan dan pengawasan saat ini tidak bisa dibedakan, karena dua-duanya menggunakan bahasa dan perintah disiplin.
Jadi kebebasan sebenarnya tidak ada karena ruang kebebasan diubah menjadi ruang produksi, yang darinya masyarakat mengonsumsi sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya di dalam ruang hidup yang sudah dicaplok.
| Opini: May Day di Tanah Tanpa Pabrik Besar |
|
|---|
| Opini: Dimensi Spiritual Ekowisata |
|
|---|
| Opini: Digitalisasi Pendidikan, Artificial Intelligence dan Cognitive Debt |
|
|---|
| Opini: Paradigma Baru Hukum Pidana untuk Lindungi Insinyur dan Marwah APH dari Rekayasa Kasus |
|
|---|
| Opini: Moke - Antara Warisan Budaya, Ekonomi Rakyat dan Negara yang Gamang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)