Kamis, 30 April 2026

Opini

Opini: Analgesik Politik, Strategi Politik Peralihan

Rasa sakit kehilangan semua referensi terhadap kekuasaan dan dominasi. Hal ini menjadi tidak lagi dipolitisasi dan menjadi masalah medis.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Melki Deni, S. Fil 

Instrumen kebahagiaan neoliberal mengalihkan perhatian kita dari situasi dominasi yang sudah mapan, dan memaksa kita untuk melakukan introspeksi. 

Hal ini membuktikan bahwa setiap orang hanya fokus pada diri mereka sendiri, pada psikologi mereka sendiri, alih-alih mempertanyakan situasi sosial, ekonomi, dan politik secara kritis. 

Persoalan ekonomi-politik yang seharusnya menjadi tanggung jawab Negara justru diprivatisasi dan diasumsi sebagai masalah psikologis personal atau fenomena patologi sosial yang tidak bisa diintervensi oleh poltik.

Bagi rezim kekuasaan, yang perlu diperbaiki bukanlah situasi sosial, melainkan kinerja. 

Tuntutan untuk mengoptimalkan kinerja, yang pada kenyataannya memaksanya menyesuaikan diri dengan relasi kekuasaan yang stabil, menyembunyikan ketidakadilan sosial, dan problem politis yang serius.

Keinginan untuk melawan rasa sakit dengan segala cara juga membuat kita lupa bahwa rasa sakit ditularkan secara sosial, ekonomi dan politik. 

Rasa sakit mencerminkan ketidakseimbangan sosial, ekonomi, dan politik yang memengaruhi kesejahteraan, keadilan dan kebahagiaan masyarakat. 

Obat penghilang rasa sakit yang diresepkan secara besar-besaran menutupi situasi sosial dan problema politik yang menyebabkan rasa sakit.

Membatasi penanganan nyeri hanya pada ranah pengobatan dan farmasi sesungguhnya mencegah nyeri menjadi bahasa dan bahkan kritik atas situasi sosial dan politik. 

Dengan demikian, rasa sakit kehilangan karakter objeknya, dan bahkan karakter sosial dan politiknya.

Masyarakat paliatif mengimunisasi dirinya sendiri terhadap kritik dengan cara menghilangkan kepekaannya melalui pengobatan atau menimbulkan kebosanan dengan bantuan media. 

Media sosial juga bertindak sebagai obat bius. Anestesi sosial yang permanen mencegah pengetahuan dan refleksi serta menekan kebenaran dengan akumulasi melalui kapitalisasi informasi, berita hoaks, propaganda komputasional, meme, foto dan video provokatif di media sosial yang turut menciptakan rasa bosan agar masyarakat tidak serius memperhatikan dan mengkritik rezim kekuasaan.

Kebohongan demi kebohongan dipropagandakan dan disebarluaskan sampai diakui sebagai kebenaran umum.

Dalam Dialektika Negatif-nya, T. L. W. Adorno menulis: “Kebutuhan untuk menyuarakan penderitaan merupakan syarat dari semua kebenaran.  Sebab penderitaan adalah objektivitas yang membebani subjek; Apa yang dialaminya sebagai bagian paling subjektifnya, ekspresinya, dimediasi secara objektif.” 

Persoalannya adalah semua media untuk menyuarakan penderitaan, aspirasi politik, dan kritik kebijakan publik dikontrol dan diawasi dengan teknologi canggih dan dengan keamanan negara yang ketat lagi beringas.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved