Liputan Khusus

LIPSUS: Wagub NTT Johni Asadoma Minta Pulangkan Nelayan Rote Keluarga Nelayan Sempat Pasrah

Wagub NTT Johni Asadoma meminta semua warga negara Indonesia (WNI) agar mendapat perlindungan Negara termasuk enam nelayan asal Kabupaten Rote Ndao

|
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
Wakil Gubernur (Wagub) NTT Johni Asadoma mengapresiasi tim sepakbola Persebata Lembata yang berhasil tembus Liga 3 Nasional musim 2025/2026. 

Upaya diplomasi dan perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri menjadi penting dalam kasus-kasus seperti ini, terutama yang berkaitan dengan pelanggaran batas laut dan penangkapan nelayan oleh otoritas negara tetangga.


Keluarga Pasrah

Kepala Desa Hundihuk, Yunus Modokh mengaku dua saudaranya adalah ABK dari KM Berkat 01 yang saat ini ditahan di Australia karena melanggar perairan perbatasan.

"Kami keluarga korban termasuk saya juga. Ada kedua saudara yang di atas kapal, Oktavianus Nafi dan Semuel Nafi, pangkat adik dari saya. Kami penuh pengharapan saat mereka melaut, sebenarnya tidak seperti ini.

Mereka mencari jalan pintas tanpa mengantongi izin dan kami berpikir saat melaut durasi waktunya 4-5 hari sudah kembali ke tanjung Papela," pungkas Yunus saat dihubungi via telepon, Senin, (2/6) malam.

Tetapi dalam kurun waktu 13 sampai 14 hari, Yunus dan keluarga dari para ABK tidak mendapat lagi informasi bahwa ke-enam ABK harus kembali ke pelabuhan. Sehingga saat itu, dirinya menduga mereka dinyatakan hilang. 

"Akhirnya kita berupaya mencari bantuan dengan berkomunikasi dengan Basarnas, Lanal Pulau Rote, Polres Rote Ndao. Namun setelah tiga hari pencairan, kami mendapat kabar bahwa enam saudara kami dengan kapal motor Berkat 01, mereka ditahan di Australia karena melanggar perairan perbatasan," tutur Yunus.

DITAHAN AUSTRALIA - Potret ke-6 ABK kapal asal Hundihuk, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao yang ditahan di Australia.
DITAHAN AUSTRALIA - Potret ke-6 ABK kapal asal Hundihuk, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao yang ditahan di Australia. (POS-KUPANG.COM/HO)

Awalnya, kata dia, keluarga sudah pasrah dan merasa mustahil jika harus mendapat informasi bahwa keenam ABK salamat atau ditangkap oleh pihak Australia.

"Kami hanya berpikir mereka (6 ABK) sudah celaka atau terdampar di pulau-pulau kosong. Ternyata mereka sementara menjalani pemeriksaan di Australia. Kami mendapat kabar dari Konsulat RI di Australia bahwa mereka sementara menjalani pemeriksaan dan diproses untuk dideportasi kembali ke Indonesia," cetus Yunus.

Di samping itu, dijelaskannya, mayoritas masyarakat Hundihuk adalah nelayan. Sebagian berprofesi sebagai petani, namun hanya petani musiman. 

"Kalau tidak hujan mereka (masyarakat) semua beraktivitas di laut. Pertanian juga tidak terlalu begitu banyak karena lahan yang tersedia sedikit," ucap Yunus.

Dia membeberkan, musibah kecelakaan laut hingga tertangkap di Australia sudah terjadi tiga kali. Kecelakaan terakhir terjadi pada tahun 2022 lalu di perairan Australia yang mengakibatkan sembilan nelayan hilang hingga kini tidak ditemukan dan dua lainnya selamat.

"Nelayan kami di sini memilih untuk melaut ke Australia karena hasil tangkapannya banyak, walaupun membutuhkan waktu yang lama dan singkat. Kapal yang digunakan juga tidak terdata dengan baik, ada yang layak, dan ada yang tidak memenuhi standar," ketusnya. 

Untuk diketahui, enam nelayan asal Rote Ndao dilaporkan hilang sejak 13 Mei 2025, saat menangkap ikan mengunakan KM Berkat Baru 01 berkapasitas 5 GT. Enam nelayan itu adalah nakhoda Oktavianus Nafi dan anak buah kapal bernama Nitanel Balu, Martinus Kanuk, Melkianus Balu, Semuel Nafi, dan Beni. 

Pada Rabu, 12 Mei 2025 pukul 23.00 Wita, KM Berkat Baru 01 bertolak dari Papela menuju perairan Selatan Pulau Rote tujuan perbatasan perairan Australia untuk mencari sirip Hiu dan Teripang. 

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved