Rabu, 15 April 2026

Opini

Opini: Paus Fransiskus dan Wibawa Gereja Masa Kini

Kepergiannya sungguh telah menyisakan duka yang mendalam bukan hanya bagi Gereja tetapi juga bagi dunia. 

|
Editor: Dion DB Putra
KOLASE-DOKUMENTASI VATIKAN MEDIA VIA KOMPAS.COM
MEGAWATI BERTEMU PAUS - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bertemu Paus Fransiskus, Kepala Negara Vatikan sekaligus pemimpin tertinggi Gereja Katolik di Vatikan, Senin (18/12/2023) pagi waktu setempat. Paus Fransikus wafat pada Senin 21 April 2025. 

Baginya, menjadi gembala berarti menjadi seperti Yesus yang mengenal, setia mendengar, dan berjalan bersama domba-dombanya dan bukan sebaliknya mengurung diri dalam tembok-tembok biara, pastoran, dan istana.

Kedua, sebagai bapak kemanusiaan. Julukan itu dilabeli oleh seorang tokoh muslim Indonesia Nasaruddin Umar dalam judul artikelnya yang dimuat di harian Media Indonesia pada 23 April 2025 lalu “Selamat Jalan Bapak Kemanusiaan”.

Julukan beliau hemat saya beralasan karena Paus Fransiskus adalah seorang pribadi yang inklusif. 

Didorong oleh imannya yang besar, ia bergerak melampaui sekat-sekat dan sentimen-sentimen primordial seperti ras, agama, suku, budaya, dan status sosial untuk memperjuangkan satu hal yakni kemanusiaan universal.

Ia berdialog dengan pemimpin-pemimpin besar dan orang-orang yang berasal dari latar belakang berdeda untuk menjawabi secara bersama masalah-masalah yang dihadapi dunia dewasa ini.

Ia tidak sungkan-sungkan mengeritik ideologi-ideologi yang tidak pro-life dan orang-orang kecil. 

Ia bahkan secara keras mengutuk aneka bentuk tindakan yang menghancurkan kehidupan manusia dan planet bumi, seperti perang dan eksploitasi alam.

Ketiga, bapak para imigran dan orang-orang miskin. Dari sekian banyak pemimpin hebat dewasa ini, Paus Fransiskus mungkin satu-satunya pemimpin yang getol berbicara dan berbuat banyak tentang nasib para imigran dan orang-orang miskin.

Ia mengungkapkan kepeduliannya melalui kata-kata dan perbuatan nyata. Masih terngiang dalam ingatan publik saat di mana ia mencium kaki para imigran saat ritual pencucian kaki di Castelnuovo di Porto, Itali pada 24 Maret 2016 (Lih. CNN Indonesia, 22 April 2025)

Selain itu, ia juga mengungkapkan suara profetisnya tentang mereka. Kepada para pemimpin Eropa dan America misalnya ia berkata, imigran adalah orang-orang terlantar yang harus diterima, dilindungi, dipromosikan, dan diintegrasikan. (Donal Door, The Pope Francis Agenda, 2018, p. 87). Mereka adalah orang-orang kalah yang harus diakomodasi dan lindungi.

Kemudian kepada para pemimpin politik dan ekonomi ia berkata, orang-orang miskin adalah orang-orang yang harus diprioritaskan dalam setiap kebijakan politik dan ekonomi. 

Mereka bukanlah objek yang harus dieliminasi. Inilah sikap radikal Sri Paus terhadap orang-orang kecil dan terpinggirkan.

Keempat, bapak toleransi. Paus Fransiskus adalah sosok yang dikenal sebagai jembatan perbedaan. 

Sama seperti Santo Fransiskus dari Asisi, di mana ada berbedaan dan konflik ia selalu hadir sebagai jembatan yang menghubungkan. 

Hal itu ia tunjukkan lewat kata-kata dan tindakan yang menyejukkan dan menggerakkan hati dan hidup orang sehingga terciptalah kerukunan dan perdamaian.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved