Senin, 1 Juni 2026

Opini

Opini: Model Desain Kurikulum untuk Pembelajaran Mendalam, Relevansi bagi Pendidikan di NTT

Model ini bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang mendalam dengan menekankan pada struktur epistemik suatu mata pelajaran.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Yulius Maran. 

Oleh: Yulius Maran 
Kepala SMA Regina Pacis Jakarta

POS-KUPANG.COM - Dalam dunia pendidikan, kualitas kurikulum memiliki dampak besar terhadap pengalaman belajar siswa. 

Salah satu model desain kurikulum yang tengah diuji di Selandia Baru dan Inggris adalah Curriculum Design Coherence (CDC), yang berakar pada teori realisme sosial dan konsep ‘Powerful Knowledge’. 

Model ini bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang mendalam dengan menekankan pada struktur epistemik suatu mata pelajaran.

Pembelajaran mendalam sangat penting dalam menciptakan pemahaman yang kokoh bagi siswa. 

Dalam konteks pendidikan di NTT, banyak sekolah menghadapi tantangan dalam memastikan bahwa siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga mampu menghubungkan konsep-konsep dalam berbagai disiplin ilmu. 

Hal ini menjadi krusial mengingat banyak siswa di daerah terpencil memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar berkualitas, sehingga kurikulum yang dirancang dengan baik dapat menjadi solusi efektif.

Mengapa Pembelajaran Mendalam Itu Penting?

Pembelajaran mendalam sangat esensial dalam menciptakan pemahaman yang kokoh bagi siswa. 

Dalam konteks pendidikan di NTT, banyak sekolah menghadapi tantangan dalam memastikan bahwa siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga mampu menghubungkan konsep-konsep dalam berbagai disiplin ilmu. 

Hal ini menjadi krusial mengingat banyak siswa di daerah terpencil memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar berkualitas, sehingga kurikulum yang dirancang dengan baik dapat menjadi solusi efektif.

Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), tingkat literasi di NTT masih berada di bawah rata-rata nasional. 

Dalam laporan PISA 2018, skor literasi siswa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara OECD, dan wilayah-wilayah di luar Jawa cenderung memiliki tantangan lebih besar. 

Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang lebih dalam dan kontekstual sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya pikir kritis siswa.

Pembelajaran mendalam memungkinkan siswa untuk memahami hubungan antar-konsep dalam suatu bidang studi serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-
hari. 

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved