Breaking News
Kamis, 30 April 2026

Opini

Opini: Anak Mesti Melampaui Kesenangan Bersastra

Namun, hemat penulis, dominasi orientasi semacam itu sejak awal justru mengerdilkan hakikat sastra di hadapan anak.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
KOLASE POS-KUPANG.COM
Ilustrasi. 

Malapraktik Pembelajaran

Dikaitkan dengan hakikat sastra di atas, tampak jelas bahwa aksentuasi secara dominan pada orientasi kesenangan anak ketika anak belajar bersastra sesungguhnya merupakan suatu malapraktik pembelajaran.

Pada suatu sisi, hal itu jelas mereduksi hakikat sastra sehingga tetap saja gagal memperkenalkan sastra kepada anak. Pada sisi lain, hal itu juga tidak cukup membantu perkembangan anak karena terpotongnya nutrisi sastra yang dihadapinya.

Jika dicermati lebih dalam, penakanan pada tujuan kesenangan anak ketika belajar bersastra pun mengalami penyempitan penafsiran pada tataran praktik. Tujuan yang demikian hanya menjadikan kesempatan belajar bersastra pada anak sebagai momen untuk berpuas-puasan atau berlega-legaan.

Tujuan tersebut hanya menjadikan kelas sebagai ruang yang penuh dengan kesukaan, kegembiraan, dan keceriaan.

Dengan mudah pula, tujuan tersebut menggoda guru untuk hanya mengisi pembelajaran sastra dengan hal-hal yang serba mudah dan praktis bagi siswanya, seperti hanya menyasar pembentukan kemapuan berpikir rendah dengan menanyakan tokoh, watak tokoh, dan semacamnya dari cerpen yang telah dibaca siswanya.

Hemat penulis, semestinya tujuan kesenangan itu lebih dilihat sebagai konsekuen oleh karena disentuhnya kemapuan berpikir imajinatif anak sebagai anteseden dalam pembelajaran sastra.

Jadi, agar anak bisa senang mestinya diasah kemampuan berimajinasinya sebagai syaratnya. Dengan demikian, keceriaan siswa bukanlah letupan dangkal di permukaan melainkan buah dari proses berimajinasi.

Kemampuan berimajinasi merupakan daya berpikir anak untuk membayangkan atau menciptakan gambaran mengenai sesuatu berdasarkan kenyataan, informasi, pengalaman, pikiran, dan sebagainya.

Ketika anak membangun lukisan atas sesuatu itu dengan menghubungkan kenyataan, informasi, atau pengalamannya, saat itu pula kemampuan berpikir kritisnya diasah sebab embro dari berpikir kritis terletak pada kemapuan mengaitkan satu hal dengan hal lain.

Jadi, daya imajinatif yang dipupuk dalam sastra sekaligus membutuhkan daya kritis. Sekadar contoh, pada topik pembelajaran tentang mencermati tokoh pada teks fiksi, selain siswa bisa bergembira dengan bumbu-bumbu pada cerpen yang dibacanya, ia mesti difasilitasi gurunya untuk menggambarkan angannya tentang tokoh dengan mengaitkan pengalamannya atau fakta lain di sekitannya.

Maka dari itu, tidak cukup jika kepada siswa hanya ditanyakan siapa tokoh atau bagaimana watak tokoh dari cerpen itu. Pertanyaan semacam itu dianggap lemah memupuk daya imajinasi anak karena rata-rata jawabannya dapat ditemukan secara lurus dari teks cerpen.

Semestinya, siswa juga perlu ditantang untuk menebak atau memprediksi kelanjutan nasib tokoh berdasarkan data awal tentang tokoh yang sudah ditulis pada teks cerpen atau yang ada pada pengalamannya.

Kemampuan meperkirakan masa depan tokoh toh juga merupakan esensi dari kemampuan mencermati tokoh pada teks fiksi.

Sentuhan pada kemampuan imajinatif sekaligus kritis seperti ini semestinya sudah mulai dilatihkan oleh para guru terutama pada siswa kelas tinggi SD saat ini. (*)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved