Kamis, 9 April 2026

Opini

Opini: Anak Mesti Melampaui Kesenangan Bersastra

Namun, hemat penulis, dominasi orientasi semacam itu sejak awal justru mengerdilkan hakikat sastra di hadapan anak.

|
Editor: Dion DB Putra
KOLASE POS-KUPANG.COM
Ilustrasi. 

Oleh Florianus Dus Arifian, M. Pd.
Dosen Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng

POS-KUPANG.COM - Pada konteks taman kanak-kanak dan sekolah dasar, sastra dianjurkan agar diperlakukan orang dewasa (guru) sebagai sarana untuk menghibur anak.

Pada konteks itu, berbagai materi sastra diorientasikan pertama-tama dan terutama untuk kesenangan, bukan untuk mencapai target yang lebih tinggi semisal pembentukan kemampuan berpikir imajinatif apalagi kritis pada anak.

Atas dasar itu, berkali-kali di dalam dokumen kurikulum muatan sastra di sekolah dasar ditambahkan frasa keterangan yang berbunyi, “… dengan tujuan untuk kesenangan” pada sebagian besar kompetensi dasar atau capaian pembelajaran siswa.

Opsi orientasi kesenangan dilandasi keyakinan bahwa usia anak merupakan masa pengenalan awal tentang sastra. Oleh karena itu, target yang membuat anak tidak bahagia dalam bersastra dianggap bisa menjauhkan anak dari
sastra.

Namun, hemat penulis, dominasi orientasi semacam itu sejak awal justru mengerdilkan hakikat sastra di hadapan anak. Alhasil, anak membangun pemahaman yang fragmentaris terhadap sastra.

Selain itu, perkembangan anak turut dikerdilkan karena terkurasnya keutuhan viatamin sastra yang hadir di hadapnnya.

Dua Sisi Utama

Tak dapat dibantah bahwa hakikat sastra berubah dari waktu ke waktu dengan mengikuti evolusi konsep dan selera seni manusia. Apa yang dahulu ditetapkan sebagai sastra bisa terjadi kurang relevan pada masa kini apalagi pada masa depan.

Walaupun demikian, diakui bahwa selalu ada dua sisi yang tidak pernah lekang pada sastra, yakni sastra bersifat imajinatif sekaligus faktual. Imajinatif bermakna bahwa di dalam sastra terkandung unsur yang dikarang-karang atau ditambah-tambahkan supaya kelihatan indah.

Faktual berarti sastra juga mengandung kebenaran atau kenyataan setidaknya kebenaran dari perspektif pengarang sastra. Kedua sisi tersebut mesti seimbang di dalam sastra. Kecondongan pada salah satu sisi
menurunkan kualitas sastra.

Dominasi unsur imajinatif menyebabkan sastra dialami sebagai karya omong kosong belaka. Dominasi unsur faktual juga menyebabkan sastra dialami sebagai karya yang kering dan kaku.

Oleh karena mengandung sekaligus unsur imajinatif dan faktual, sastra diakui sebagai karya yang bersifat menghibur sekaligus mendidik manusia. Dengan bersastra, hati manusia diguyur kesenangan dan kesejukan yang datang dari bumbu-bumbu sastra.

Dengan bersastra pula, pikiran manusia turut disentuh oleh ajaran yang berasal dari fakta atau kebenaran sastra. Jadi, sastra memang semestinya menyenangkan serentak bermanfaat bagi insan.

Gagasan di atas berlaku juga untuk kategori sastra anak. Walaupun memiliki karakteristik khusus dari segi bentuk dan isi, yakni bahwa bentuk dan isinya harus sesuai dengan kemampuan anak, sastra anak tetaplah karya yang bersifat imajinatif sekaligus faktual, menghibur sekaligus mendidik, meyenangkan serentak bermafaat bagi anak.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved