Sabtu, 18 April 2026

Opini

Opini: Mengurai Makna Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia

Dalam pintasan sejarah, Paus pertama yang melakukan kunjungan apostolik dengan menggunakan pesawat adalah Paulus VI.

Editor: Dion DB Putra
AFP
Paus Fransiskus memimpin perayaan Malam Paskah di Basilika Santo Petrus di Vatikan, Sabtu 30 Maret 2024. Pemimimpin Takhta Suci akan ke Indonesia 3-6 September 2024. 

Ia tidak takut akan perannya sebagai kepala negara dan bahwa ia mampu menghadapi “orang-orang besar” dengan kesederhanaan tetapi juga dengan ketegasan yang tepat.

Ketika Eropa agak semakin tidak bergerak dan tidak siap untuk menghadapi tantangan politik, Vatikan hadir untuk memberi bobot definisi soal keseimbangan dalam tatanan pemerintahan dan politik.

Vatikan juga menampilkan diri sebagai pusat kekuatan lunak yang mampu mempengaruhi para pemimpin dunia lainnya dalam menyuarakan perdamaian.


Mengurai kunjungan apostolik Paus Fransiskus pada bulan September nanti di Indonesia, saya teringat akan kata-kata dari Paus Paulus VI ketika ia berbicara dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa: “kita seperti peziarah yang selama dua ribu tahun telah memulai sebuah perjalanan dan hari ini tiba di sini sebagai titik akhir, karena kita ingin mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang”.

Jadi gagasan utama dalam setiap kunjungan apostolik adalah untuk mewartakan kabar sukacita. Di sini saya akan menambahkan dengan beberapa gagasan yang saya dapat saat kuliah tentang Hukum Internasional di Universitas Kepausan Roma.

Ada seorang dosen kami mengatakan bahwa sebenarnya dalam setiap kunjungan apostolik, ada tiga tema utama yang selalu menjadi titik fokus perhatian: pertama, dialog.

Salah satu instrumen dalam kunjungan apostolik adalah melayani dialog. Dialog bisa dilakukan dengan segala dan berbagai cara bahkan bisa dengan kompromi-kompromi yang diperlukan untuk membangun jembatan, atau bahkan dengan mempertimbangkan posisi-posisi yang secara diametris berlawanan atau berbeda.

Aspek kedua adalah perhatian kepada yang paling kecil, lemah, tersingkir dan teraniaya khususnya terhadap negara-negara yang sedang berkembang atau negara-negara yang membutuhkan dukungan eksternal.

Di sini sangat penting adanya tindakan advokasi bagi masyarakat internasional, yaitu memberikan gambaran tentang situasi yang sebenarnya. Kadang-kadang apa yang diketahui Gereja tentang situasi ekonomi suatu masyarakat atau bangsa, tidak diketahui oleh struktur pemerintahan negara tersebut.

Dan elemen ketiga adalah perlindungan hak-hak yang paling mendasar dari manusia, terkait dengan aspek kebebasan beragama dan apa yang berkaitan dengan hak-hak sipil, politik, ekonomi dan sosial.

Ketiga aspek ini sebenarnya mendukung tujuan utama dari Gereja yakni keselamatan jiwa-jiwa, anima salutis suprema lex.

Rupa-rupanya kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia pada 3-6 September nanti perlu dibaca dalam konteks ini: dialog, perhatiannya kepada yang kecil, miskin, tersingkir dan teraniaya, serta perlindungan hak-hak yang paling mendasar dari manusia.

Dan lebih spesifik dalam konteks kita, bisa menjadi pasti bahwa Paus Fransiskus akan menyuarakan pentingnya nilai-nilai semangat persaudaraan, perdamaian, toleransi, serta menjaga kerukunan antar-umat beragama. (*)

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved