Sabtu, 18 April 2026

Opini

Opini: Mengurai Makna Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia

Dalam pintasan sejarah, Paus pertama yang melakukan kunjungan apostolik dengan menggunakan pesawat adalah Paulus VI.

Editor: Dion DB Putra
AFP
Paus Fransiskus memimpin perayaan Malam Paskah di Basilika Santo Petrus di Vatikan, Sabtu 30 Maret 2024. Pemimimpin Takhta Suci akan ke Indonesia 3-6 September 2024. 

Kunjungan apostolik dari Paus Fransiskus ke Korea Selatan dan Albania pada tahun 2014 juga sarat makna. Di Seoul, Paus Fransiskus mengajak pemerintah Seoul untuk melanjutkan upaya mewujudkan perdamaian.

Di Albania, fokus pidato Paus pada koeksistensi perdamaian antar agama-agama, stabilitas pemerintahan, toleransi, dan keseimbangan etnis.

Menyimak terminologi yang digunakan Paus seperti: Pemerintahan, keseimbangan, dan stabilitas, lebih merupakan terminologi yang lebih bersifat politis daripada religius.

Dengan ini sebenarnya menampilkan wajah Vatikan sebagai sebuah negara yang bertindak dan bersuara dalam konflik-konflik internasional, memainkan peran aktif dalam perselisihan dan menenangkan dunia dengan tak lelah menyuarakan perdamaian di antara bangsa-bangsa.

Kunjungan apostoliknya ke Turki juga menarik untuk disimak. Kunjungan ini bisa dikatakan sebagai sebuah kunjungan yang kontroversial.

Ketika bertemu dengan Patriark Bartolomeus I, Paus Fransiskus menyatakan keprihatinannya terhadap dunia Timur Tengah, Suriah, dan Irak serta menyatakan keinginannya untuk mendorong penyelesaian konflik di daerah- daerah tersebut.

Yang menjadi persoalan kala itu, ketika beliau berbicara tentang isu genosida di Armenia.

Alasan dari keprihatinan Paus ini muncul dari perannya sebagai pemimpin umat Katolik di dunia sekaligus juga untuk mendefinisikan isu politik genosida yang selalu dijauhi oleh para pemimpin politik karena dinilai terlalu merepotkan.

Sikap, posisi dan pernyataan Paus saat itulah yang membuat Ankara “jengkel”, dan menyebut kata-kata Paus dalam kunjungannya itu tidak dapat diterima serta menyatakan akan mengambil tindakan terhadap Vatikan.

Tetapi Paus Fransiskus menanggapinya dengan baik dan tenang, dengan menyatakan selama perayaan ekaristi saat itu bahwa tugas Gereja adalah untuk mengatakan sesuatu dengan tegas dan terus terang.

Kunjungan apostoliknya ke Sri Lanka juga sangat penting. Di hadapan para pemimpin agama-agama besar di Asia, ia menyatakan bahwa agama tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan, dan mengutuk fundamentalisme agama.

Ia juga mendesak rakyat Sri Lanka untuk terus melanjutkan jalan menuju rekonsiliasi setelah perang saudara selama bertahun-tahun. Kunjungan ke Kuba dan Amerika Serikat patut kita munculkan disini.

Pilihan untuk mengunjungi kedua negara ini dengan maksud untuk pemulihan hubungan kedua negara yang secara historis bertentangan.

Pernyataan mengenai ekonomi, kecaman terhadap sistem kapitalis dan kritik ringan terhadap pemerintah Kuba menjadi salah bagian penting dalam kunjungan ini. Kunjungan beliau ke Amerika Serikat lebih fokus pada isu-isu sosial.


Dari beberapa cuplikan kunjungan dan isu-isu yang menjadi fokus pembicaraan saat kunjungan menampilkan pada kita bahwa di satu sisi, Paus Fransiskus hadir sebagai seorang pemimpin tertinggi umat katolik seluruh dunia tapi di sisi yang lain, beliau juga adalah kepala negara Vatikan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved