Sabtu, 18 April 2026

Opini

Opini: Mengurai Makna Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia

Dalam pintasan sejarah, Paus pertama yang melakukan kunjungan apostolik dengan menggunakan pesawat adalah Paulus VI.

Editor: Dion DB Putra
AFP
Paus Fransiskus memimpin perayaan Malam Paskah di Basilika Santo Petrus di Vatikan, Sabtu 30 Maret 2024. Pemimimpin Takhta Suci akan ke Indonesia 3-6 September 2024. 

Oleh: Dr. Doddy Sasi, Cmf
Ketua Tribunal Keuskupan Agung Kupang dan Dosen Hukum Gereja STIPAS KAK

POS-KUPANG.COM-Lawatan Paus Fransiskus pada bulan September 2024 nanti merupakan perjalanan apostoliknya yang ke-43 selama masa pontifikalnya.

Paus Fransiskus adalah Paus ketiga yang akan mengunjungi Indonesia. Sebelumnya ada Paus Paulus VI (3 Desember 1970) dan Paus Yohanes Paulus II (8-12 Oktober 1989).

Ketika sudah ada kepastian berita tentang kunjungan apostolik Paus Fransiskus ini, ada yang bertanya kapan 'tradisi' kunjungan apostolik itu dimulai? Apa maksud dan tujuan dari sebuah kunjungan apostolik Paus.

Dalam pintasan sejarah, Paus pertama yang melakukan kunjungan apostolik dengan menggunakan pesawat adalah Paulus VI.

Kala itu pada tanggal 4 Januari 1964, Paus Paulus VI melakukan kunjungan apostoliknya ke Tanah Suci, dimana puncak dari kunjungan ini adalah pertemuan bersejarah di Yerusalem antara beliau dan Patriark Ekumenis Konstantinopel, Athenagoras.

Dari sepenggal kisah ini, kita tentu dapat mengatakan bahwa tradisi perjalanan apostolik dimulai dengan Paulus VI, tetapi Paus yang paling banyak melakukan perjalanan tidak diragukan lagi adalah Yohanes Paulus II, yang mencapai angka tidak kurang dari 104 perjalanan apostolik.

Dari Polandia hingga Kuba, dari Madagaskar hingga Kanada, Bapa Suci mengunjungi tidak kurang dari 127 negara selama masa kepausannya. Paling tidak dalam setahun mendiang Paus Yohanes Paulus II mengunjungi sekitar 5 negara.

Dr. Doddy Sasi, CMF
Dr. Doddy Sasi, CMF (DOK PRIBADI)

Paus Fransiskus ketika ingin melakukan kunjungan apostoliknya yang pertama, beliau mengenang kata-kata saat kunjungan apostolik pertama dari Paus Paulus VI dengan mengatakan: "Ia meresmikan perjalanan kepausan di dunia sebagai cara baru untuk melaksanakan pelayanan pastoral seorang Paus, yang mana memungkinkan dirinya sebagai Uskup Roma untuk menjangkau begitu banyak orang yang tidak akan pernah bisa berziarah ke Roma".

Mengenang Paus Yohanes Paulus II, Paus Fransiskus mengutip kata-katanya: “kunjungan apostolik adalah bentuk misi yang menjadi bagian integral dari pelayanan pastoral seorang Paus”.

Dalam konteks kunjungan apostolik ini, yang perlu dicatat bahwa selain sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, Paus juga adalah pemimpin Negara Vatikan sehingga kunjungan apostolik yang dilakukannya adalah juga perjalanan diplomatik dengan sendirinya.

Baca juga: Diplomasi Perkenalkan Bahasa Indonesia Harus Intensif Jelang Kunjungan Paus Fransiskus Fransiskus

Sejauh ini Takhta Suci Vatikan memiliki hubungan diplomatik dengan lebih dari 170 negara.

Kita kembali ke kunjungan apostolik dari Paus Fransiskus. Kunjungan apostolik pertama ke luar negeri yang dilakukan oleh Paus Fransiskus adalah ke Brasil pada tahun 2013 untuk perayaan puncak Hari Orang Muda Sedunia.

Paus kemudian pergi ke Tanah Suci, di mana dalam lawatannya ini, beliau menyatakan hak eksistensi Negara Israel dan hak untuk bermartabat bagi rakyat Palestina, juga menyatakan penghargaan dan kedekatannya dengan komunitas Muslim.

Motivasi sebenarnya dari kunjungan ini adalah kenangan akan pelukan bersejarah kunjungan Paus Paulus VI dan Athenagoras pada tahun 1964, yang mewakili tonggak sejarah dialog antaragama.

Kunjungan apostolik dari Paus Fransiskus ke Korea Selatan dan Albania pada tahun 2014 juga sarat makna. Di Seoul, Paus Fransiskus mengajak pemerintah Seoul untuk melanjutkan upaya mewujudkan perdamaian.

Di Albania, fokus pidato Paus pada koeksistensi perdamaian antar agama-agama, stabilitas pemerintahan, toleransi, dan keseimbangan etnis.

Menyimak terminologi yang digunakan Paus seperti: Pemerintahan, keseimbangan, dan stabilitas, lebih merupakan terminologi yang lebih bersifat politis daripada religius.

Dengan ini sebenarnya menampilkan wajah Vatikan sebagai sebuah negara yang bertindak dan bersuara dalam konflik-konflik internasional, memainkan peran aktif dalam perselisihan dan menenangkan dunia dengan tak lelah menyuarakan perdamaian di antara bangsa-bangsa.

Kunjungan apostoliknya ke Turki juga menarik untuk disimak. Kunjungan ini bisa dikatakan sebagai sebuah kunjungan yang kontroversial.

Ketika bertemu dengan Patriark Bartolomeus I, Paus Fransiskus menyatakan keprihatinannya terhadap dunia Timur Tengah, Suriah, dan Irak serta menyatakan keinginannya untuk mendorong penyelesaian konflik di daerah- daerah tersebut.

Yang menjadi persoalan kala itu, ketika beliau berbicara tentang isu genosida di Armenia.

Alasan dari keprihatinan Paus ini muncul dari perannya sebagai pemimpin umat Katolik di dunia sekaligus juga untuk mendefinisikan isu politik genosida yang selalu dijauhi oleh para pemimpin politik karena dinilai terlalu merepotkan.

Sikap, posisi dan pernyataan Paus saat itulah yang membuat Ankara “jengkel”, dan menyebut kata-kata Paus dalam kunjungannya itu tidak dapat diterima serta menyatakan akan mengambil tindakan terhadap Vatikan.

Tetapi Paus Fransiskus menanggapinya dengan baik dan tenang, dengan menyatakan selama perayaan ekaristi saat itu bahwa tugas Gereja adalah untuk mengatakan sesuatu dengan tegas dan terus terang.

Kunjungan apostoliknya ke Sri Lanka juga sangat penting. Di hadapan para pemimpin agama-agama besar di Asia, ia menyatakan bahwa agama tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan, dan mengutuk fundamentalisme agama.

Ia juga mendesak rakyat Sri Lanka untuk terus melanjutkan jalan menuju rekonsiliasi setelah perang saudara selama bertahun-tahun. Kunjungan ke Kuba dan Amerika Serikat patut kita munculkan disini.

Pilihan untuk mengunjungi kedua negara ini dengan maksud untuk pemulihan hubungan kedua negara yang secara historis bertentangan.

Pernyataan mengenai ekonomi, kecaman terhadap sistem kapitalis dan kritik ringan terhadap pemerintah Kuba menjadi salah bagian penting dalam kunjungan ini. Kunjungan beliau ke Amerika Serikat lebih fokus pada isu-isu sosial.


Dari beberapa cuplikan kunjungan dan isu-isu yang menjadi fokus pembicaraan saat kunjungan menampilkan pada kita bahwa di satu sisi, Paus Fransiskus hadir sebagai seorang pemimpin tertinggi umat katolik seluruh dunia tapi di sisi yang lain, beliau juga adalah kepala negara Vatikan.

Ia tidak takut akan perannya sebagai kepala negara dan bahwa ia mampu menghadapi “orang-orang besar” dengan kesederhanaan tetapi juga dengan ketegasan yang tepat.

Ketika Eropa agak semakin tidak bergerak dan tidak siap untuk menghadapi tantangan politik, Vatikan hadir untuk memberi bobot definisi soal keseimbangan dalam tatanan pemerintahan dan politik.

Vatikan juga menampilkan diri sebagai pusat kekuatan lunak yang mampu mempengaruhi para pemimpin dunia lainnya dalam menyuarakan perdamaian.


Mengurai kunjungan apostolik Paus Fransiskus pada bulan September nanti di Indonesia, saya teringat akan kata-kata dari Paus Paulus VI ketika ia berbicara dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa: “kita seperti peziarah yang selama dua ribu tahun telah memulai sebuah perjalanan dan hari ini tiba di sini sebagai titik akhir, karena kita ingin mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang”.

Jadi gagasan utama dalam setiap kunjungan apostolik adalah untuk mewartakan kabar sukacita. Di sini saya akan menambahkan dengan beberapa gagasan yang saya dapat saat kuliah tentang Hukum Internasional di Universitas Kepausan Roma.

Ada seorang dosen kami mengatakan bahwa sebenarnya dalam setiap kunjungan apostolik, ada tiga tema utama yang selalu menjadi titik fokus perhatian: pertama, dialog.

Salah satu instrumen dalam kunjungan apostolik adalah melayani dialog. Dialog bisa dilakukan dengan segala dan berbagai cara bahkan bisa dengan kompromi-kompromi yang diperlukan untuk membangun jembatan, atau bahkan dengan mempertimbangkan posisi-posisi yang secara diametris berlawanan atau berbeda.

Aspek kedua adalah perhatian kepada yang paling kecil, lemah, tersingkir dan teraniaya khususnya terhadap negara-negara yang sedang berkembang atau negara-negara yang membutuhkan dukungan eksternal.

Di sini sangat penting adanya tindakan advokasi bagi masyarakat internasional, yaitu memberikan gambaran tentang situasi yang sebenarnya. Kadang-kadang apa yang diketahui Gereja tentang situasi ekonomi suatu masyarakat atau bangsa, tidak diketahui oleh struktur pemerintahan negara tersebut.

Dan elemen ketiga adalah perlindungan hak-hak yang paling mendasar dari manusia, terkait dengan aspek kebebasan beragama dan apa yang berkaitan dengan hak-hak sipil, politik, ekonomi dan sosial.

Ketiga aspek ini sebenarnya mendukung tujuan utama dari Gereja yakni keselamatan jiwa-jiwa, anima salutis suprema lex.

Rupa-rupanya kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia pada 3-6 September nanti perlu dibaca dalam konteks ini: dialog, perhatiannya kepada yang kecil, miskin, tersingkir dan teraniaya, serta perlindungan hak-hak yang paling mendasar dari manusia.

Dan lebih spesifik dalam konteks kita, bisa menjadi pasti bahwa Paus Fransiskus akan menyuarakan pentingnya nilai-nilai semangat persaudaraan, perdamaian, toleransi, serta menjaga kerukunan antar-umat beragama. (*)

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved