Obituari
Ignas Kleden, Catatan Seorang Pembaca
Setahun lebih saya kehilangan tulisan Ignas Kleden. Biasanya ia rutin menulis opini di Harian Kompas atau Majalah Tempo, setiap bulan selalu ada.
Ignas Kleden kelahiran Waibalun, Larantuka, Flores Timur, NTT pada 19 Mei 1948. Ia termasuk tertib dalam berbusana, setertib menulis dan berbicara. Ia tampak lebih sering mengenakan batik untuk menunjukkan ke-Indonesiaannya.
Ignas lebih pas disebut sebagai sastrawan dan intelektual, sebagaimana dilekatkan oleh Pos Kupang. Ia menulis sejak tahun 1970-an. Awalnya ia menulis kritik terhadap karya-karya sastra Indonesia.
Ignas seorang yang jujur dalam menulis. Ia pernah terlibat polemik dengan Afrizal Malna, penyair yang sering dicap sebagai penyair gelap karena sajak-sajaknya yang sulit dipahami dan dirasakan.
Ignas tak pernah pura-pura memahami dan menikmati sajak-sajak Afrizal, karena itulah sang penyair mendebatnya. Sebagai intelektual, Ignas Kleden membuka diri untuk berdebat.
Tradisi berpikirnya terbentuk karena latar belakang pendidikannya memang filsafat dan ia terbiasa di lingkungan Katolik yang juga kuat disiplin berpikirnya.
Ignas mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Ledalero, Maumere Flores pada tahun 1972, kemudian menggondol gelar Master of Arts di bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman pada 1982, dan doktor bidang sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman pada 1995.
Mungkin karena tradisi filsafat itulah, Ignas kukuh dalam sikapnya sebagai intelektual dengan kekuatan iman Katolik yang tak mudah terjerumus pada godaan duniawi.
Selamat beristirahat, Pak Ignas. Tulisan indahmu akan tetap mengalir bak sungai bermata air jernih dan pemandangan yang hijau. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ignas-kleden_20180322_173037.jpg)