Obituari
Ignas Kleden, Catatan Seorang Pembaca
Setahun lebih saya kehilangan tulisan Ignas Kleden. Biasanya ia rutin menulis opini di Harian Kompas atau Majalah Tempo, setiap bulan selalu ada.
Apa yang ia katakan, gayanya dan materinya, tidak jauh berbeda dengan tulisannya, berbobot tapi mengandung seni. Tapi orangnya terkesan angker dan kurang humor, sehingga mengurungkan niat saya untuk berkenalan.
Saya semakin ketagihan membaca tulisan Ignas Kleden. Semua buku yang diberi pengantar Ignas Kleden, saya beli dan saya baca, di antaranya adalah Kumpulan Cerpen Kompas tahun 1997 “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”.
Dalam buku itu Ignas menulis catatan berjudul “Simbolisme Cerita Pendek”. Lalu Buku Catatan Pinggir (2) karya Goenawan Mohamad juga diberi pengantar Ignas berjudul “Eskperimen Seorang Penyair”.
Entah mengapa, buku yang diberi catatan penganatar Ignas rata-rata memang berkualitas dan seksi untuk dibaca sampai tuntas.
Tulisan Ignas itu tidak saja menambah wawasan, tapi kita merasakannya. Tulisannya seperti tarian yang meliuk-liuk.
Ignas menulis tidak dalam kapasitas sebagai akademisi, menulis perihal dengan cara kaku disertai seabreg terminologi yang bikin berkerut dahi.
Ignas menulis dalam kapasitasnya seorang penulis, seorang inetelektual pengembara, yang bisa hinggap dari satu persoalan ke persoalan lain dengan loncat-loncat, tapi loncatannya seindah atlet loncat indah.
Baca juga: Ignas Kleden Berpulang dalam Usia 76 Tahun
Tulisannya yang sampai sekarang saya simpan baik-baik adalah tulisan Ignas berjudul “Esei” di Majalah Prisma terbitan tahun 1988. Esai, dalam kacamata Ignas, adalah tulisan tentang suatu hal yang berbobot tapi membawa pembacanya tamasya dan bergembira.
Di dalam tulisan bentuk esai ada hal yang ingin disampaikan penulisnya, tapi tidak dengan cara menggurui apalagi mendikte, tapi pembacanya diajak jalan-jalan, joging, bahkan diajak berdansa sehingga tulisan itu bisa teraba dan terasa, bukan saja terpikirkan.
Tulisan Ignas Kleden selalu mengenai hal yang berbobot - mulai dari politik, kebudayaan, sastra, pendidikan - tapi ditulis untuk mengajak pembaca ikut merasakannya, bukan sekadar memikirkan.
Tulisan bentuk esai bukan tulisan yang sifatnya akademis. Esai lebih bersifat sastra. Tidak heran, penulis esai seperti Bertrand Russel dan Henri Bergson mendapat hadiah nobel sastra karena esai-esainya yang cemerlang.
***
Saya pernah menduga Ignas Kleden seorang akademisi yang mengajar di berbagai universitas. Ternyata, sepanjang saya membaca tulisannya, ia tak pernah sekalipun menjelaskan bahwa ia pernah mengajar.
Ia hanya menjelaskan bahwa ia bekerja sebagai redaktur di penerbit Yayasan Obor dan di Majalah Prisma, majalah yang fokus di lapangan pemikiran. Ia juga mendirikan semacam lembaga yang mendorong tegaknya demokrasi di Indonesia.
Saya tidak tahu mengapa ia seperti tak tertarik dengan dunia akademik, padahal pengetahuannya melampaui para guru besar yang bertebaran di berbagai universitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ignas-kleden_20180322_173037.jpg)