Breaking News

Berita Ngada

Doa Novena, Tenaga Kontrak, hingga Strategi Membangun Kawasan Ekonomi Terpadu Ngada

Di sela kunjungan kerjanya bertemu Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho, Bupati Ngada Andreas Paru, mengajak Pos Kupang bertemu di sebuah rumah makan.

|
Penulis: Hasyim Ashari | Editor: Hasyim Ashari
POS-KUPANG.com
BINCANG – Pemred Pos Kupang, Hasyim Ashari saat berbincang dengan Bupati Ngada, Andreas Paru, didampingi GM PT Timor Media Grafika Margaretha Iin Wahyungingrum dan Kepala Bank NTT Cabang Bajawa, Lorenso Andri Bere Mau, Selasa (14/3). 

Sejumlah wilayah khususnya di wilayah pertanian belum memiliki akses jalan.

“Saya minta dilakukan survei. Ternyata, kontur tanah tidak terlalu membutuhkan alat berat. Kami mulai bangun jalan. Sekarang sudah selesai 75 kilometer. Tahu berapa anggarannya? Hanya Rp 200 juta,” imbuhnya.

Contoh lainnya adalah jembatan. Ia melihat sejumlah tiang pancang terbenam di depan Kantor Dinas PUPR.

Tiang pancang itu, setelah diperiksa kualitasnya ternyata masih bisa untuk membangun jembatan.

Baca juga: Soal Pemberhentian Dewan Pengawas PDAM, Bupati Andreas Paru : Tidak Ada Kepentingan Politik

“Hanya, karena sudah berumur, saya minta yang tadinya hanya butuh 1 tiang baru, kalau pakai yang lama, saya minta digandeng jadi dua tiang. Jembatannya sudah jadi. Baru saja kita resmikan,” ucap Bupati.

Berikutnya, ia menyebut rumah sakit daerah. Dana pinjaman dari Bank NTT, sebesar Rp 25 miliar di antaranya dialokasikan untuk membangun rumah sakit.

Keputusan membangun rumah sakit yang refresentatif ini, banyak yang tidak setuju. Sebab, anggaran Pemkab Ngada sangat kecil.

“Saya bilang tidak. Kita jalan terus. Kita harus mulai. Kalau tunggu anggaran cukup, kita tidak akan pernah punya rumah sakit. Sebab anggarannya mencapai RP 200 miliar. Kita sudah mulai bangun. Tahap pertama Rp 25 miliar,” ujarnya.

Keterbatasan dana juga mendorong Bupati Andreas untuk menjolok anggaran di pusat, dalam hal ini Kementerian Kesehatan.

Ia bertemu dengan Menteri Budi Gunadi Sadikin. Menkes pun akan membantu melalui Dana Alokasi Khsus (DAK).

“Kemarin waktunya kurang tepat. Karena sudah mau final untuk anggaran 2023. Jadi kita ajukan lagi untuk 2024. Pak Menteri menyampaikan kewenangan Kemenkes di bawah Rp 50 miliar," ujarnya.

"Pak Menteri bahkan memuji Ngada karena bisa mulai membangun rumah sakit di tengah keterbatasan anggaran. Daerah lain, tidak berani,” tegas Bupati Andreas.

Baca juga: Disebut Kangkangi Keputusan Sendiri, Begini Klarifikasi Bupati Ngada Andreas Paru

Kepada Menkes, Bupati tidak hanya meminta bantuan untuk merealisasikan rumah sakit.

Namun juga meminta agar putra-putri terbaik Ngada bisa mendapat beasiswa kedokteran.

“Kita minta 30 siswa dulu. Berikutnya, kita minta juga dokter spesialis. Dan untuk tenaga kesehatan mendapat fasilitas perumahan dan lain-lain. Ini bentuk upaya kita memperbaiki kualitas layanan kesehatan untuk masyarakat Ngada,” papar Bupati.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved