Jumat, 24 April 2026

Cerpen

Cerpen: Di Hadapan Layar Kaca

Teriakan itu mengguncang pendengaranku. Tanpa pikir panjang, aku melompat dari tempat tidur dan buru-buru merapikannya.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
ILUSTRASI 

"Ide bagus!" jawab Ani penuh antusias. Aku pun mengikuti mereka, demi persahabatan.

Di kantin, lagu TikTok Tabola-Bale meledak heboh. Kami menari, meniru gaya gerakan para penari profesional, Om Silet Open Up dan kawan-kawan. 

Saking serunya menari, pulpenku terjatuh dari saku, tepat di kolong meja. Saat lagu selesai, aku mengambil pulpen itu, dan seketika mataku bertemu Ibu Lina. 

Rupanya ia mengawasi kami diam-diam seperti bayangan ranting pohon. Langkahnya berwibawa dan mulai mendekati kami.

"Ternyata kalian munafik. Saya menyuruh kalian kerja tugas di kelas, tapi kalian malah bermain TikTok di sini," tegurnya dengan nada pelan, sambil menggelengkan kepala. 

"Apakah kalian sudah mengecek tugas di email?"

Kami terdiam. Bibir kami terasa kaku untuk menjawab.

"Jelaskan, kenapa kalian bermain TikTok saat jam pelajaran?"

"Bu... kami jenuh di kelas," jawab kami serempak. Suara kami kaku seperti kambing yang kedinginan.

"Iya... saya paham kalian jenuh dengan tugas. Tapi waktunya yang salah. Kejadian ini bisa sangat fatal; bukan hanya diketahui kepala sekolah, tetapi juga dapat merusak masa depan kalian. Ponsel dibawa ke sekolah untuk kepentingan akademik, bukan untuk bermain TikTok. Cobalah... utamakan yang lebih berarti daripada yang sekadar hura-hura."

Ibu Lina hanya memberikan nasihat kepada kami. Ia tidak memberikan hukuman, meskipun raut wajahnya terpancar kemarahan. 

Setelah itu, Ibu Lina meninggalkan kami lalu kembali ke ruang guru. Aku tertunduk. Malu yang mendalam menyelimuti diriku atas ucapan Ibu Lina. 

Seandainya, kejadian ini diketahui ibuku di rumah, pasti rotan sudah melecut di bokongku.

“Sebaiknya kita kembali ke kelas,” ajakku, penuh ketakutan.

Kami bertiga pun melangkah menuju kelas. Setiba di kelas, teman-teman yang 
lain sibuk dengan ponselnya masing-masing. 

Kami tidak memberitahu mereka soal kejadian tadi. Kami bertiga duduk berdekatan sambil melihat kembali video yang kami buat di kantin.

“Kamu les apa!” sebuah suara menggelegar dari pintu. Suara itu memecahkan kesunyian pikiran kami yang terpaku pada layar kaca. Bapak kepala sekolah muncul di hadapan kami.

“Kamu les dengan siapa,” tanyanya sekali lagi.

“Ibu Lina, pak,” jawab Ani.

Bapak kepala sekolah menyuruh Ani memanggil Ibu Lina di ruang guru. 

Ekspresinya penuh amarah ketika guru tak masuk kelas, lalu melihat kami tidak belajar tetapi malah bermain ponsel.

“Mau jadi apa kamu ini nanti,” ucapnya dengan kesal.

Di hadapan kami, ketika Ibu Lina tiba, ia langsung memarahinya. Ibu Lina tertunduk tanpa menjawab. Saking marahnya, bapak kepala sekolah mengancam Ibu 
Lina akan dipecat dari sekolah jika tidak bertanggung jawab untuk mengajar. 

Mendengar ancaman itu, Ibu Lina melinangkan air mata. Suasana saat itu seketika pecah berubah menjadi sedih.

Baca juga: Cerpen: Di Ujung Belis

“Maaf, pak. Tadi saya sudah memberi mereka tugas, karena saya ada zoom dengan dinas pendidikan. Bukan berarti saya tidak bertanggung jawab,” jawab Ibu Lina dengan suara pelan, berusaha menjelaskan alasannya mengapa ia tak masuk kelas.

Mendengar penjelasan Ibu Lina, bapak kepala sekolah memandang kami tanpa berkata-kata.

Aku pun merasa kasihan dan bersalah terhadap Ibu Lina. Padahal, ia sudah menegur kami, tapi kami tak mengindahkannya. Ia tak menghukum kami ketika bermain TikTok di kantin. 

Barangkali, ia takut terjerat hukum, karena sekolah menerapkan konsep sekolah ramah anak. Justru kebaikan itu, kami gunakan secara sewenang-wenang sehingga Ibu Lina dimarahi kepala sekolah. 

Untungnya, Ibu Lina juga berbaik hati pada kami. Ia tak memberitahu bapak kepala sekolah soal kejadian di kantin. (*)

Keterangan:

[1] Towe songke: Kain tenun dari daerah Manggarai

[2] Ikan kencara: Sebutan dalam bahasa Manggarai untuk sejenis ikan.

Krisogonus Kusman
Krisogonus Kusman (DOKUMENTASI PRIBADI KRISOGONUS KUSMAN)

*) Krisogonus Kusman, biasa disapa Gonsi atau Gogon adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VI pada Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Selain sebagai mahasiswa, Gonsi atau Gogon merupakan seorang calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, Gonsi atau Gogon suka membaca dan menulis sastra, khususnya cerpen.

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved