Jumat, 24 April 2026

Cerpen

Cerpen: Di Hadapan Layar Kaca

Teriakan itu mengguncang pendengaranku. Tanpa pikir panjang, aku melompat dari tempat tidur dan buru-buru merapikannya.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
ILUSTRASI 

"Iya bu... sedikit lagi selesai," jawabku sambil mengeringkan tubuh dengan handuk usang.

Seragam putih-abu yang tadinya kusut kini rapi membalut tubuhku. Di meja makan, nasi hangat, sayur kangkung, sepotong ikan kencara,[2] dan secangkir kopi luwak dari Manggarai menyambut kedatanganku. Aromanya merayu penciuman.

"Terima kasih, bu," kataku setelah tenggakkan pertama, sambil menenangkan gelora pagiku.

"Minum sampai habis. Biar hari ini kamu tambah semangat dan tidak kantuk di sekolah," kata ibu dari dekat tungku. Posisinya sedang membelakangiku.

“Siap... ibuku yang paling baik dan cantik,” balasku sedikit menghibur hatinya. Meskipun aku tahu, ibu tak membutuhkan rayuan semacam itu. Sekalipun aku menyakitinya, ia tetap memberikan yang terbaik bagiku.

“Kopi asli Manggarai, enak kan?”

"Iya, bu. Dari aromanya saja sudah cukup menjelaskan rasanya. Mungkin karena tidak dicampur pengawet, apalagi ditambah dengan takarannya yang pas. Aku semakin mencintai kopi buatan ibu," balasku. 

Berharap, ibu terus menyuguhkan kopi tiap pagi bagiku, seperti ritual cinta yang tak pernah lekang.

"Bu, aku berangkat dulu. Ani sudah menunggu di depan," kataku, lalu mencium tangannya.

"Hati-hati, nak," balas ibu saat aku berpaling dari rumah.

"Selamat pagi, Ani. Maaf agak telat,"

"Tidak apa-apa, Ana. Ponselmu-mu mana?"

"Ponsel? Bukankah kita tak diizinkan membawanya ke sekolah?"

“Kamu belum baca aturan terbaru dari sekolah?” tanya Ani.

“Aku belum baca. Sejak kapan?”

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved