Rabu, 15 April 2026

Cerpen

Cerpen: Di Ujung Belis

Namanya adalah perjuangan, namun akhirnya hanyalah sebuah perpisahan yang dipaksakan oleh takdir.

Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Rian kini berdiri di pemakaman yang masih basah. Di tangannya, ia mendekap bayi mungil yang dibalut kain tenun pemberian Sarah. Ia menatap nisan istrinya dengan pandangan kosong.

Segala harta yang ia kumpulkan di perantauan, segala emas dan uang yang ia serahkan sebagai Belis, kini terasa tidak ada artinya. 

Ia telah membayar adat dengan harta, namun semesta menagih bayaran yang lebih mahal: nyawa wanita yang ia cintai.

Laki-laki itu menangis tanpa suara. Ia tersadar bahwa ia pulang bukan untuk menua bersama Sarah, melainkan hanya untuk menjemput sebuah titipan. 

Ia memandang wajah putrinya yang sangat mirip dengan ibunya, lalu berbisik pelan di tengah isak tangisnya:

 “Nak, ibumu adalah harga paling mahal yang pernah ayah bayar untuk memilikimu.

Dunia Rian kini berhenti berputar. Suksesnya terasa hambar, rumah besarnya terasa sunyi. Ia menang, namun kehilangan segalanya. 

Di bawah langit yang sama dengan masa SMA mereka dulu, Rian kini hanya memiliki seorang anak perempuan dan sebuah lubang di hati yang takkan pernah bisa tertutup oleh harta apa pun di dunia ini.

Kini, Rian berdiri di pinggir pantai, tempat mereka dulu sering duduk bersama. Di gendongannya, seorang bayi perempuan bernama Sarina—gabungan nama Sarah dan Rian—sedang tertidur.

Rian memandang hamparan laut luas. Ia teringat betapa kerasnya ia bekerja di Malaysia untuk mengumpulkan uang Belis. 

Ia teringat betapa bangganya ia saat bisa melunasi adat itu. Namun kini, ia tersadar akan sebuah kebenaran yang menyakitkan.

“Aku menghabiskan masa mudaku berjuang mengumpulkan harta untuk memilikimu secara adat, Sarah. Tapi aku lupa meminta pada Tuhan agar kita bisa menua bersama.”

Harta melimpah, rumah mewah yang ia bangun dari keringat rantau, dan jabatan suksesnya kini terasa seperti tumpukan kertas tanpa arti. 

Ia telah membayar Belis yang diminta keluarga, namun ia juga harus membayar “Belis Nyawa” kepada takdir.

Setiap kali Sarina menangis, Rian melihat bayangan Sarah. Setiap kali Sarina tersenyum, hatinya hancur berkeping-keping karena menyadari bahwa kecantikan itu dibayar dengan nyawa ibunya. 

Rian kini sukses sebagai seorang ayah dan pengusaha, namun ia adalah laki-laki paling kesepian yang berjalan di muka bumi, membawa sebuah janji SMA yang kini hanya tersisa di atas batu nisan yang dingin. (*)

*) Boy Waro adalah mahasiswa yang sedang praktik pastoral di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved