Cerpen
Cerpen: Di Ujung Belis
Namanya adalah perjuangan, namun akhirnya hanyalah sebuah perpisahan yang dipaksakan oleh takdir.
Belis lunas. Adat terpenuhi. Pernikahan digelar dengan sangat megah, seolah-olah seluruh dunia ikut merayakan kemenangan cinta mereka atas tradisi.
Kebahagiaan itu terasa begitu sempurna saat Sarah mengandung. Rian menjaga istrinya seolah Sarah adalah permata yang paling rapuh di dunia. Ia sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut buah hati mereka.
Hingga malam itu tiba. Malam yang seharusnya menjadi gerbang menuju kebahagiaan baru, justru menjadi pintu menuju duka abadi.
Sarah mengalami komplikasi hebat saat persalinan. Di puskesmas tempat Sarah dulu bekerja, kini ia berjuang untuk nyawanya sendiri.
Kebahagiaan itu terasa seperti hembusan angin yang terlalu singkat. Tak lama setelah menikah, Sarah hamil. Rian tidak mengizinkannya bekerja keras.
Ia ingin Sarah menikmati hasil perjuangan mereka. Namun, memasuki bulan kesembilan, suasana berubah menjadi mencekam.
Malam itu, hujan turun sangat lebat, seolah langit tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Sarah mengalami kontraksi yang tidak wajar.
Rian melarikannya ke rumah sakit, tempat di mana Sarah biasa menyelamatkan nyawa orang lain. Namun kali ini, tidak ada yang bisa menyelamatkannya.
“Rian... dingin sekali...” bisik Sarah di atas ranjang persalinan. Wajahnya
pucat pasi, namun matanya tetap menatap suaminya dengan cinta yang sama seperti di SMA dulu. Dokter keluar dengan wajah tertunduk.
“Terjadi emboli air ketuban. Kita harus memilih, Pak.” Rian berteriak histeris, “Selamatkan keduanya! Ambil nyawaku saja, jangan dia!”
“Rian... jaga anak kita,” bisik Sarah, suaranya nyaris hilang di sela deru napas yang pendek.
“Bertahanlah, Sarah! Kita sudah melewati semuanya! Belis, jarak, waktu... jangan menyerah sekarang!” raung Rian sambil menggenggam tangan istrinya yang mulai mendingin.
Namun Tuhan punya skenario yang tidak bisa ditawar. Suara tangis bayi perempuan yang melengking memecah keheningan koridor rumah sakit tepat pada pukul tiga dini hari.
Bayi itu lahir, mungil dan cantik, dengan jemari yang menggenggam erat telunjuk ayahnya.
Tapi di sampingnya, Sarah telah menghembuskan napas terakhir. Ia meninggal tepat setelah mendengar tangis pertama anaknya, meninggalkan senyum tipis di bibirnya yang membiru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-batu-nisan.jpg)