Opini
Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional
Negara maju lahir dari institusi yang inklusif, akuntabel, dan mampu membatasi penyalahgunaan kekuasaan.
Narasi Indonesia Emas sering kali terlalu fokus pada pembangunan fisik.
Kita berbicara tentang jalan tol, bendungan, pelabuhan, kawasan industri, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Semua itu memang penting. Namun pembangunan fisik tidak otomatis menghasilkan kemajuan peradaban.
Peradaban dibangun oleh manusia. Dan manusia dibentuk oleh pendidikan, etika publik, budaya politik, serta kualitas institusi.
Tidak ada jalan tol yang dapat menggantikan integritas.
Tidak ada hilirisasi yang dapat menggantikan keadilan.
Tidak ada investasi yang dapat menggantikan kepercayaan publik.
Bangsa yang kaya secara ekonomi tetapi miskin secara institusional akan tetap rentan terhadap krisis.
Baca juga: Opini: Curaçao Sudah Sampai, Indonesia Kapan?
Karena itu, ukuran keberhasilan Indonesia 2045 tidak boleh semata-mata diukur dari Produk Domestik Bruto, tingkat investasi, atau posisi dalam peringkat ekonomi dunia.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah rakyat merasa memiliki masa depan.
Apakah anak-anak muda percaya bahwa kerja keras akan menghasilkan mobilitas sosial?
Apakah hukum berlaku sama bagi semua warga negara?
Apakah jabatan publik diperoleh karena kompetensi, bukan kedekatan?
Apakah negara hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan?
Jika jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut masih meragukan, maka sesungguhnya Indonesia belum berada di jalur emas yang sesungguhnya.
Kita mungkin sedang membangun gedung-gedung yang lebih tinggi, tetapi belum tentu membangun kepercayaan yang lebih kuat.
Kita mungkin sedang mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, tetapi belum tentu menghasilkan rasa keadilan yang lebih besar.
Kita mungkin sedang merancang masa depan yang gemilang, tetapi pada saat yang sama membiarkan kecemasan sosial tumbuh secara diam-diam.
Indonesia Emas pada akhirnya bukanlah soal tahun 2045. Ia adalah soal kualitas keputusan politik yang dibuat hari ini. Ia adalah soal keberanian memperbaiki institusi. Ia adalah soal kesediaan mendengar kritik. Ia adalah soal kemampuan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan elite.
Jika hal-hal tersebut gagal diwujudkan, maka Indonesia Emas hanya akan menjadi slogan pembangunan yang indah di atas kertas.
Dan sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa bangsa-bangsa tidak gagal karena kekurangan mimpi. Mereka gagal karena terlalu lama hidup dalam ilusi tentang mimpi mereka sendiri.
Indonesia Emas masih mungkin dicapai. Namun selama kecemasan publik terus tumbuh, ketimpangan kesempatan tetap lebar, korupsi belum berhasil ditaklukkan, dan kualitas demokrasi terus dipertanyakan, maka yang sedang berkembang di bawah permukaan bukanlah optimisme kolektif melainkan Indonesia Cemas. Dan tidak ada ancaman yang lebih berbahaya bagi masa depan sebuah bangsa selain ketika rakyat mulai kehilangan keyakinan terhadap masa depannya sendiri. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Heryon Bernard Mbuik
Menuju Indonesia Emas
Indonesia Emas
Opini Pos Kupang
Pengamat Kebijakan Publik
Meaningful
| Opini: Bunyi dan Hening |
|
|---|
| Opini - Ketika Tobat Menjadi Viral: Membaca Pengakuan Dosa Terbuka dalam Terang Teologi Pembebasan |
|
|---|
| Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Negara Beradat, Adat Bernegara |
|
|---|
| Opini: Menakar Gengsi dan Investasi- Dilema Orang Tua dalam Memilih Kampus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Heryon-Bernard-Mbuik.jpg)