Opini
Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional
Negara maju lahir dari institusi yang inklusif, akuntabel, dan mampu membatasi penyalahgunaan kekuasaan.
Kita berbicara tentang partisipasi, tetapi ruang deliberasi publik menyempit.
Kita memuji stabilitas politik, tetapi lupa bahwa stabilitas yang terlalu nyaman bagi penguasa sering kali tidak nyaman bagi demokrasi.
Indonesia Emas membutuhkan demokrasi yang sehat. Masalahnya, demokrasi yang sehat memerlukan keberanian untuk menerima kritik. Dan kritik hanya dapat tumbuh dalam ruang publik yang bebas.
Bangsa yang terlalu sibuk merayakan dirinya sendiri biasanya kehilangan kemampuan untuk mengoreksi kesalahannya.
Di titik inilah Indonesia perlu belajar dari pengalaman banyak negara.
Daron Acemoglu dan James Robinson dalam Why Nations Fail menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak terutama ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam ataupun besarnya investasi, melainkan oleh kualitas institusi yang dimilikinya.
Negara maju lahir dari institusi yang inklusif, akuntabel, dan mampu membatasi penyalahgunaan kekuasaan.
Sebaliknya, negara gagal biasanya memiliki institusi yang eksklusif dan melayani kepentingan kelompok tertentu (Acemoglu & Robinson, 2012).
Jika tesis tersebut digunakan untuk membaca Indonesia hari ini, maka ancaman terbesar bangsa ini bukanlah perang dagang global, ketidakpastian geopolitik, atau perlambatan ekonomi dunia.
Ancaman terbesar justru berasal dari dalam. Ancaman itu berupa korupsi yang terus beradaptasi dengan berbagai bentuk baru.
Ancaman itu berupa birokrasi yang belum sepenuhnya meritokratis.
Ancaman itu berupa politik yang semakin mahal sehingga hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki sumber daya besar.
Ancaman itu berupa pendidikan yang belum mampu menghasilkan daya saing yang setara dengan negara-negara maju.
Ancaman itu berupa menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Karena sesungguhnya bangsa tidak runtuh ketika menghadapi tantangan dari luar. Bangsa runtuh ketika kehilangan kemampuan memperbaiki dirinya sendiri.
Heryon Bernard Mbuik
Menuju Indonesia Emas
Indonesia Emas
Opini Pos Kupang
Pengamat Kebijakan Publik
Meaningful
| Opini: Bunyi dan Hening |
|
|---|
| Opini - Ketika Tobat Menjadi Viral: Membaca Pengakuan Dosa Terbuka dalam Terang Teologi Pembebasan |
|
|---|
| Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Negara Beradat, Adat Bernegara |
|
|---|
| Opini: Menakar Gengsi dan Investasi- Dilema Orang Tua dalam Memilih Kampus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Heryon-Bernard-Mbuik.jpg)