Opini
Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional
Negara maju lahir dari institusi yang inklusif, akuntabel, dan mampu membatasi penyalahgunaan kekuasaan.
Akibatnya muncul sebuah paradoks. Negara berbicara tentang optimisme. Masyarakat berbicara tentang kecemasan.
Pemerintah berbicara tentang bonus demografi. Generasi muda berbicara tentang sulitnya masa depan.
Elite politik berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Rakyat berbicara tentang bertahan hidup.
Paradoks inilah yang sering luput dari perencanaan pembangunan. Negara cenderung mengukur keberhasilannya melalui indikator makro, sementara masyarakat menilai keberhasilan negara berdasarkan pengalaman hidup yang mereka rasakan secara langsung.
Dalam perspektif kebijakan publik, kondisi tersebut dikenal sebagai legitimacy gap, yakni jurang antara keberhasilan yang diklaim pemerintah dan kenyataan yang dirasakan warga negara. Ketika jurang itu semakin lebar, legitimasi sosial pembangunan akan semakin rapuh.
Indonesia tampaknya mulai menghadapi gejala tersebut. Lebih mengkhawatirkan lagi, kecemasan publik tidak hanya berkaitan dengan ekonomi. Ia juga berkaitan dengan arah demokrasi.
Selama dua dekade terakhir Indonesia sering dipuji sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Namun berbagai perkembangan politik belakangan ini menunjukkan bahwa kualitas demokrasi tidak selalu bergerak searah dengan prosedur demokrasi.
Pemilu memang tetap berlangsung.
Partai politik tetap beroperasi.
Lembaga negara tetap bekerja.
Namun pertanyaan yang lebih substansial adalah: apakah demokrasi masih mampu menjalankan fungsi pengawasannya terhadap kekuasaan?
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Politik dinasti semakin lazim dipertontonkan. Oligarki ekonomi semakin kuat memengaruhi proses politik.
Partai politik semakin kehilangan fungsi kaderisasi dan lebih sering menjadi kendaraan elektoral elite tertentu. Sementara itu, kritik publik sering kali dipersepsikan sebagai ancaman, bukan sebagai mekanisme koreksi yang sehat.
Dalam kondisi seperti itu, demokrasi berisiko berubah menjadi prosedur tanpa substansi.
Kita menyelenggarakan pemilu, tetapi kualitas representasi melemah.
Heryon Bernard Mbuik
Menuju Indonesia Emas
Indonesia Emas
Opini Pos Kupang
Pengamat Kebijakan Publik
Meaningful
| Opini: Bunyi dan Hening |
|
|---|
| Opini - Ketika Tobat Menjadi Viral: Membaca Pengakuan Dosa Terbuka dalam Terang Teologi Pembebasan |
|
|---|
| Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Negara Beradat, Adat Bernegara |
|
|---|
| Opini: Menakar Gengsi dan Investasi- Dilema Orang Tua dalam Memilih Kampus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Heryon-Bernard-Mbuik.jpg)