Breaking News
Rabu, 17 Juni 2026

Opini

Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional

Negara maju lahir dari institusi yang inklusif, akuntabel, dan mampu membatasi penyalahgunaan kekuasaan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HERYON B. MBUIK
Heryon Bernard Mbuik 

Akibatnya muncul sebuah paradoks. Negara berbicara tentang optimisme. Masyarakat berbicara tentang kecemasan.

Pemerintah berbicara tentang bonus demografi. Generasi muda berbicara tentang sulitnya masa depan.

Elite politik berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Rakyat berbicara tentang bertahan hidup.

Paradoks inilah yang sering luput dari perencanaan pembangunan. Negara cenderung mengukur keberhasilannya melalui indikator makro, sementara masyarakat menilai keberhasilan negara berdasarkan pengalaman hidup yang mereka rasakan secara langsung.

Dalam perspektif kebijakan publik, kondisi tersebut dikenal sebagai legitimacy gap, yakni jurang antara keberhasilan yang diklaim pemerintah dan kenyataan yang dirasakan warga negara. Ketika jurang itu semakin lebar, legitimasi sosial pembangunan akan semakin rapuh.

Indonesia tampaknya mulai menghadapi gejala tersebut. Lebih mengkhawatirkan lagi, kecemasan publik tidak hanya berkaitan dengan ekonomi. Ia juga berkaitan dengan arah demokrasi.

Selama dua dekade terakhir Indonesia sering dipuji sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Namun berbagai perkembangan politik belakangan ini menunjukkan bahwa kualitas demokrasi tidak selalu bergerak searah dengan prosedur demokrasi.

Pemilu memang tetap berlangsung.

Partai politik tetap beroperasi.

Lembaga negara tetap bekerja.

Namun pertanyaan yang lebih substansial adalah: apakah demokrasi masih mampu menjalankan fungsi pengawasannya terhadap kekuasaan?

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Politik dinasti semakin lazim dipertontonkan. Oligarki ekonomi semakin kuat memengaruhi proses politik. 

Partai politik semakin kehilangan fungsi kaderisasi dan lebih sering menjadi kendaraan elektoral elite tertentu. Sementara itu, kritik publik sering kali dipersepsikan sebagai ancaman, bukan sebagai mekanisme koreksi yang sehat.

Dalam kondisi seperti itu, demokrasi berisiko berubah menjadi prosedur tanpa substansi.

Kita menyelenggarakan pemilu, tetapi kualitas representasi melemah.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
3 - 0
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved