Opini
Opini: Curaçao Sudah Sampai, Indonesia Kapan?
Curaçao memang kalah. Tidak ada cara untuk menghindari kenyataan bahwa perbedaan kualitas antara kedua tim masih sangat besar.
Oleh: Gergorius Babo
Warga penggemar sepak bola, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Ketika Jerman mengalahkan Curaçao dengan skor 7-1 pada laga fase grup Piala Dunia 2026, perhatian dunia langsung tertuju kepada satu fakta besar.
Die Mannschaft resmi melampaui Brasil sebagai tim dengan jumlah gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Bagi banyak media internasional, inilah cerita utama dari pertandingan yang berlangsung di Houston tersebut.
Namun sepak bola yang baik tidak selalu dibaca dari sisi pemenang. Dalam banyak kesempatan, cerita yang paling bermakna justru muncul dari pihak yang kalah.
Di balik rekor Jerman dan pesta tujuh gol yang mereka ciptakan, terdapat kisah tentang sebuah negara kecil yang berhasil mengubah kekalahan telak menjadi momen bersejarah bagi perjalanan sepak bolanya.
Baca juga: Pemanasan ala Jerman
Curaçao memang kalah. Tidak ada cara untuk menghindari kenyataan bahwa perbedaan kualitas antara kedua tim masih sangat besar.
Tujuh gol yang bersarang ke gawang mereka menunjukkan betapa jauhnya jarak antara salah satu kekuatan utama sepak bola dunia dan negara yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia.
Namun pertandingan ini tidak boleh berhenti dibaca pada angka 7-1. Jika hanya melihat skor akhir, kita kehilangan kesempatan memahami perubahan besar yang sedang terjadi dalam sepak bola global.
Jika melihat lebih jauh, pertandingan ini justru menghadirkan pelajaran berharga tentang bagaimana negara kecil dapat menemukan jalannya menuju panggung terbesar dunia.
Bagi Indonesia, kisah Curaçao mungkin jauh lebih relevan dibandingkan kisah Jerman. Indonesia tidak sedang berada pada posisi mengejar rekor dunia atau mempertahankan tradisi juara seperti yang dilakukan Jerman.
Indonesia justru sedang berada dalam fase yang mirip dengan perjalanan negara-negara yang berusaha menembus batas sejarah mereka sendiri.
Karena itu, memahami Curaçao berarti memahami kemungkinan. Memahami Jerman berarti melihat hasil akhir dari sebuah proses yang sudah matang selama puluhan tahun.
Memahami Curaçao berarti melihat bagaimana sebuah perjalanan besar dapat dimulai dari titik yang sederhana.
Perbedaan itulah yang membuat kisah mereka layak mendapat perhatian lebih besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gergorius-Babo-03.jpg)