Selasa, 16 Juni 2026

Opini

Opini: Menakar Gengsi dan Investasi- Dilema Orang Tua dalam Memilih Kampus

Industri bimbel sukses mendikte psikologi orang tua bahwa masa depan anak dipertaruhkan hanya dalam satu kali ujian seleksi nasional. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh: drh. Aji Winarso, M.Si 
Dosen di Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Bagi para orang tua yang memiliki anak di bangku akhir SMA, bulan-bulan seleksi perguruan tinggi adalah fase paling menegangkan. 

Di ruang keluarga, perbincangan tidak lagi sekadar tentang minat bakat anak, melainkan kalkulasi matang antara isi dompet, masa depan, dan satu hal yang sering kali sulit dikesampingkan: gengsi sosial. 

Di tengah riuhnya sistem penerimaan mahasiswa baru, orang tua diposisikan sebagai konsumen pendidikan yang kerap terjebak dalam pusaran arus "PTN-sentris".

Baca juga: Opini: Mengapa Pendidikan Kita Terus Berubah Tapi Sulit Bertransformasi?

Sebagai konsumen, orang tua tentu menginginkan investasi terbaik. Selama berdekade-dekade, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dipandang sebagai produk "premium dengan harga subsidi". 

Label negeri menjanjikan biaya yang lebih terukur sekaligus bonus berupa status sosial yang tinggi di mata tetangga. Ketika anak berhasil masuk PTN, orang tua merasa telah memenangkan sebuah pencapaian besar, sebuah validasi atas keberhasilan pola asuh mereka.

Kecemasan dan ambisi orang tua ini kemudian ditangkap dengan sangat cerdik oleh pasar. 

Lembaga bimbingan belajar (bimbel) hadir menawarkan program-program instan berbiaya fantastis, lengkap dengan jargon "garansi pasti tembus PTN". 

Industri bimbel sukses mendikte psikologi orang tua bahwa masa depan anak dipertaruhkan hanya dalam satu kali ujian seleksi nasional. 

Akibatnya, orang tua rela merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah demi mengejar label "Negeri", sebuah investasi yang sering kali didorong oleh rasa takut akan kegagalan sosial.

Ketakutan ini memuncak pada fenomena aktual yang kerap berulang setiap tahun: perpindahan maba secara massal dari Perguruan Tinggi Swasta ( PTS) ke Perguruan Tinggi Negeri ( PTN). 

Karena jadwal seleksi mandiri PTN yang kerap molor dan tumpang tindih, banyak orang tua yang telanjur mendaftarkan anaknya ke PTS sebagai pengaman agar tidak "menganggur". 

Namun, begitu pengumuman PTN keluar dan anak mereka dinyatakan lolos, orang tua tanpa ragu menarik diri dari PTS. 

Baca juga: Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru

Mereka rela kehilangan uang muka (down payment) atau uang pangkal hingga belasan juta rupiah yang hangus begitu saja demi menukar status swasta dengan negeri. 

Fenomena "ikhlas rugi finansial" ini menjadi potret betapa rapuh dan mahalnya rasa aman yang harus dibayar orang tua sebagai konsumen pendidikan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved