Opini
Opini: Generasi Cepat Bosan dan Matinya Kedalaman Berpikir
Menghidupkan kembali budaya membaca dan melatih konsentrasi mungkin terasa tidak menarik di tengah derasnya hiburan instan.
Oleh: Febrianto Damasius Ginting
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
POS-KUPANG.COM - Cobalah memperhatikan perilaku kita sendiri atau orang-orang di sekitar saat sedang menggenggam gawai.
Berapa lama kita bertahan membaca satu paragraf penuh sebelum jempol tanpa sadar menggulir layar ke bawah?
Atau berapa lama kita sanggup menonton sebuah video sebelum merasa bosan ketika dalam beberapa detik pertama tidak ada gambar yang mencolok atau musik yang menarik perhatian?
Tanpa disadari, kita sedang hidup dalam budaya yang membuat daya tahan perhatian semakin pendek. Kita sedang menjadi generasi yang cepat bosan.
Fenomena video pendek berdurasi 15 hingga 60 detik di platform seperti TikTok, Instagram Reels dan YouTube Shorts telah mengubah bukan hanya cara kita mencari hiburan, tetapi juga cara kita menerima dan mengolah informasi.
Baca juga: Opini: Rutin MeNaRi, Gerakan Sederhana untuk Mendeteksi Korsleting Jantung
Kita sedang mengalami pergeseran budaya, dari budaya membaca yang menuntut konsentrasi dan kesabaran menuju budaya visual yang serba cepat dan instan.
Setiap kali menemukan sesuatu yang baru dan menarik, otak memperoleh sensasi kepuasan yang mendorong kita untuk terus mencari rangsangan berikutnya.
Akibatnya, kita terus menggulir layar, berpindah dari satu konten ke konten lain, tanpa pernah benar-benar berhenti untuk merenung.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko melemahkan kemampuan kita untuk berpikir secara runtut, kritis dan mendalam.
Banjir Informasi, Kekeringan Makna
Masyarakat digital saat ini merupakan masyarakat yang paling banyak mengonsumsi informasi sepanjang sejarah peradaban manusia.
Namun, melimpahnya informasi tidak selalu diikuti oleh meningkatnya pemahaman.
Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010) menjelaskan bahwa internet secara perlahan membentuk kebiasaan membaca yang cepat, terfragmentasi dan melompat dari satu informasi ke informasi lainnya.
Otak dilatih menjadi pemindai informasi yang efisien, tetapi pada saat yang sama kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama dan merenungkan suatu persoalan secara mendalam.
Dampaknya terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang membaca judul berita tanpa menuntaskan isi beritanya.
Kita semakin mudah merasa memahami suatu persoalan hanya karena telah menonton ringkasan singkat di media sosial.
Berbagai isu yang kompleks, mulai dari konflik internasional hingga kebijakan publik, sering kali dipahami melalui potongan-potongan informasi yang minim konteks dan penjelasan.
Kita merasa sudah mengetahui suatu masalah, padahal yang kita terima sering kali hanyalah kesimpulan yang disusun oleh orang lain.
Beberapa data nasional memperkuat kekhawatiran ini. Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) tahun 2025 menunjukkan bahwa indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia berada pada angka 54,80 atau masih dalam kategori sedang.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 17,21 persen anak usia dini yang pernah dibacakan buku cerita atau dongeng oleh orang tua mereka.
Sementara itu, hanya sekitar 11,12 persen anak yang belajar atau membaca buku bersama orang tua.
Data tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca belum sepenuhnya menjadi bagian kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Namun, persoalan terbesar bukan semata-mata terletak pada rendahnya kebiasaan membaca.
Persoalan yang lebih mendasar adalah semakin berkurangnya kemauan untuk membaca teks yang panjang, kompleks dan menuntut konsentrasi.
Kita lebih menyukai kesimpulan instan daripada proses memahami. Tanpa disadari, kita sedang membiasakan diri menjadi konsumen pemikiran orang lain, bukan penghasil pemikiran yang mandiri.
Matinya Nuansa dan Lahirnya Sumbu Pendek
Dampak dari kebiasaan berpikir dangkal ini semakin terlihat dalam ruang diskusi publik.
Ketika kita terbiasa menerima informasi secara singkat dan serba instan, kemampuan untuk memahami persoalan secara utuh pun perlahan melemah.
Banyak isu yang sebenarnya kompleks akhirnya dipandang secara sederhana. Orang cenderung terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa memahami konteks, penyebab, maupun berbagai sudut pandang yang ada.
Akibatnya, ruang diskusi semakin dipenuhi penilaian yang cepat, sementara sikap kritis dan kehati-hatian dalam memahami persoalan semakin berkurang.
Media sosial dengan algoritma echo chamber-nya memperparah keadaan. Alih-alih mempertemukan pengguna dengan beragam pandangan, algoritma justru lebih sering menyajikan informasi yang sejalan dengan keyakinan yang sudah dimiliki.
Akibatnya, seseorang semakin jarang berhadapan dengan perspektif yang berbeda. Ruang publik pun ikut berubah.
Perdebatan gagasan yang sehat sering kali kalah oleh pertukaran komentar yang emosional, saling menyerang dan kecenderungan untuk menghakimi sebelum memahami persoalan secara utuh.
Filsuf dan ahli budaya Byung-Chul Han dalam bukunya Infocracy: Digitalization and the Crisis of Democracy (2022) mengingatkan bahwa banjir informasi digital tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang lebih cerdas atau lebih tercerahkan.
Ketika informasi lebih dihargai karena kemampuannya membangkitkan emosi daripada karena kebenarannya, yang berkembang bukan kebijaksanaan, melainkan kemarahan.
Tidak mengherankan jika masyarakat menjadi semakin mudah tersulut oleh informasi yang belum terverifikasi.
Kita sering kali bereaksi lebih cepat daripada memahami, padahal pemahaman memerlukan waktu, perhatian dan kesabaran.
Melawan Arus Kedangkalan
Menyelamatkan generasi dari kedangkalan berpikir bukanlah tugas yang mudah. Kita sedang berhadapan dengan industri teknologi global yang menginvestasikan sumber daya besar untuk merancang aplikasi yang mampu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Namun, tantangan yang besar tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.
Lembaga pendidikan perlu berani mengubah orientasi pembelajaran.
Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan siswa untuk mengumpulkan informasi yang dengan mudah dapat ditemukan melalui mesin pencari.
Pendidikan harus lebih berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, penalaran logis dan literasi informasi.
Siswa perlu dilatih untuk mempertanyakan sumber informasi, mengenali bias, membedakan fakta dari opini, serta membaca dan memahami teks secara mendalam.
Kemampuan seperti ini tidak tumbuh dari video berdurasi satu menit, tetapi dari kebiasaan membaca dan berpikir yang dilakukan secara konsisten.
Di tingkat keluarga, orang tua perlu lebih berani menciptakan waktu bebas layar di rumah. Bukan berarti menolak teknologi, melainkan membangun keseimbangan yang sehat antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Membacakan buku kepada anak, mengajak mereka berdiskusi di meja makan atau menyediakan waktu untuk berbincang tanpa gangguan gawai merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar bagi perkembangan kemampuan berpikir anak.
Perubahan juga dapat dimulai dari diri sendiri. Kita bisa melatih kembali kemampuan berkonsentrasi yang perlahan terkikis oleh kebiasaan digital.
Membaca satu artikel secara mendalam setiap hari, menyelesaikan satu bab buku setiap minggu atau mematikan notifikasi gawai selama beberapa waktu merupakan langkah sederhana yang dapat membantu memulihkan kemampuan untuk memberi perhatian secara penuh.
Kemampuan berkonsentrasi, seperti halnya keterampilan lain, akan berkembang jika dilatih dan akan melemah jika terus diabaikan.
Catatan akhir
Tidak ada peradaban besar yang lahir dari perhatian yang terpecah-pecah. Pengetahuan, inovasi, kebijakan publik yang berkualitas, maupun karya-karya besar dalam sejarah manusia tumbuh dari kemampuan untuk membaca, merenung dan berpikir secara mendalam.
Karena itu, tantangan terbesar kita hari ini bukan sekadar menghadapi banjir informasi, melainkan menjaga agar kemampuan berpikir tidak tenggelam di dalamnya.
Menghidupkan kembali budaya membaca dan melatih konsentrasi mungkin terasa tidak menarik di tengah derasnya hiburan instan.
Namun, kemampuan untuk memberi perhatian secara penuh, memahami persoalan secara mendalam dan berpikir secara kritis merupakan fondasi yang menentukan kualitas suatu bangsa.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, mungkin justru kita perlu belajar untuk sesekali melambat, membuka buku dan memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja lebih dalam.
Saatnya meletakkan gawai sejenak, mengambil buku dan mulai berpikir lagi.(*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Febrianto Damasius Ginting
Opini Pos Kupang
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
cepat bosan
Era Banjir Informasi
Meaningful
| Opini: Menjaga Stabilitas Pasar NTT di Tengah Badai Pelemahan Rupiah |
|
|---|
| Opini: Dua Tiang Sakral Perkawinan Tetun |
|
|---|
| Opini: Rutin MeNaRi, Gerakan Sederhana untuk Mendeteksi Korsleting Jantung |
|
|---|
| Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari |
|
|---|
| Opini: Menanamkan yang Tepat- Pendidikan Sejati Menurut Kacamata Parmenides |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-main-ponsel.jpg)