Opini
Opini: Aku Hitam dan Cantik- Ketika NTT Menolak Didefinisikan oleh Lukanya
NTT lebih sering muncul sebagai kumpulan persoalan yang menunggu penyelesaian. Kemiskinan disebut. Stunting disebut. Perdagangan orang disebut.
Kehadiran martabat itu juga tampak di banyak jemaat kecil Gereja Masehi Injili di Timor ( GMIT). Selama lebih dari tujuh dekade, GMIT bertumbuh di pulau pulau kecil, di tanah yang kering, serta di tengah berbagai keterbatasan.
Fakta bahwa gereja ini tetap hidup, bahkan menjadi salah satu kekuatan sosial terbesar di NTT, menunjukkan bahwa luka tidak pernah menjadi identitas terakhir sebuah masyarakat.
Dari tanah yang keras itu lahir jemaat jemaat yang setia, yang terus membuktikan bahwa harapan dapat bertumbuh bahkan ketika keadaan tampak tidak bersahabat.
Di sana saya belajar satu hal: Luka mungkin menjadi bagian dari sejarah. Akan tetapi luka tidak pernah menjadi identitas terakhir.
Sebelum Statistik, Ada Martabat
Pada akhirnya, tulisan ini bukan terutama tentang NTT. Tulisan ini adalah tentang manusia. Tulisan ini adalah tentang siapa yang berhak menentukan nilai manusia.
Sejak awal Alkitab telah memberikan jawaban yang sangat jelas. Sebelum ada indeks pembangunan. Sebelum ada angka kemiskinan.
Sebelum ada laporan statistik. Allah lebih dahulu memandang ciptaan-Nya lalu berkata, “Sungguh amat baik” (Kejadian 1:31).
Kalimat itu adalah fondasi martabat. Maknanya sederhana sekaligus radikal. Manusia selalu lebih besar daripada statistiknya.
Masyarakat selalu lebih besar daripada persoalannya. Sebuah daerah selalu lebih besar daripada luka lukanya.
Kesadaran itulah yang membuat NTT tidak perlu menyangkal kenyataan yang ada. Kritik tetap diperlukan. Perbaikan tetap harus dilakukan.
Data tetap harus dibaca dengan jujur. Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh diserahkan kepada luka: “Martabat”
Ukuran Allah terhadap manusia berbeda dari ukuran yang sering dipakai dunia. Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak luka yang pernah dimiliki sebuah masyarakat. Tuhan akan bertanya apakah masyarakat itu masih percaya bahwa dirinya dikasihi.
Dari tanah yang terlalu lama diperkenalkan melalui penderitaannya, suara itu terdengar kembali. Bukan suara kesombongan. Bukan suara penyangkalan. Melainkan suara manusia yang akhirnya berdamai dengan martabat yang diberikan Allah.
Aku hitam dan cantik.
Aku terluka, tetapi tidak kehilangan martabatku.
Aku Tirza, juita seperti Yerusalem
Aku Nusa Tenggara Timur.
NTT bukan luka yang sedang meminta belas kasihan. NTT adalah manusia manusia yang terlalu lama diperkenalkan melalui penderitaannya, lalu perlahan belajar kembali melihat dirinya melalui mata Allah.
Dari sanalah suara itu terdengar kembali dengan tenang sekaligus teguh: Aku hitam dan cantik. (*)
Daftar Rujukan
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2025). Indeks pembangunan manusia Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2025. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Berita resmi statistik: Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur triwulan I tahun 2026.
Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. - Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Profil kemiskinan Provinsi Nusa Tenggara Timur September 2025. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur.
- Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x
- Guha, R. (1997). Dominance without hegemony: History and power in colonial India. Harvard University Press.
- Wabyanga, R. K. (2021). “I am black and beautiful”: A Black African reading of Song of Songs 1:5–7 as a protest song. Old Testament Essays, 34(2), 588–609. https://doi.org/10.17159/2312-3621/2021/v34n2a16
- Alkitab. (2018). Alkitab Terjemahan Baru Edisi 2. Lembaga Alkitab Indonesia.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-07.jpg)