Opini
Opini: Aku Hitam dan Cantik- Ketika NTT Menolak Didefinisikan oleh Lukanya
NTT lebih sering muncul sebagai kumpulan persoalan yang menunggu penyelesaian. Kemiskinan disebut. Stunting disebut. Perdagangan orang disebut.
Pertumbuhan ekonomi NTT pada triwulan pertama tahun 2026 juga mencapai 5,32 persen (BPS Provinsi NTT, 2025; 2026). NTT tidak sedang diam di dalam luka.
NTT sedang bertumbuh. NTT sedang bekerja. NTT sedang berjuang memperbaiki dirinya. Ironisnya, ruang publik lebih mudah mengingat krisis daripada pemulihan.
Penjajahan yang Bekerja Melalui Cara Pandang
Setiap zaman memiliki bentuk penjajahannya sendiri. Pada masa lalu, manusia dijajah melalui tanah yang dirampas atau tenaga yang dieksploitasi.
Pada masa kini, penjajahan sering kali bekerja melalui cara berpikir. Ia tidak lagi merebut tanah. Ia merebut makna.
Kajian tentang media framing menunjukkan bahwa media tidak hanya menyampaikan kenyataan, tetapi juga memengaruhi cara publik memahami kenyataan tersebut (Entman, 1993).
Ketika sebuah daerah terus-menerus diperkenalkan melalui kemiskinan, stunting, atau perdagangan orang, yang tinggal dalam ingatan publik bukan lagi persoalannya, melainkan citranya.
Orang tidak lagi berkata bahwa NTT memiliki kemiskinan. Orang mulai berpikir bahwa kemiskinan adalah NTT.
Ranajit Guha mengingatkan bahwa kelompok yang dimarjinalkan sering kali kehilangan kesempatan untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Mereka lebih sering diceritakan daripada menceritakan dirinya (Guha, 1997).
Di sinilah persoalan ini menjadi lebih filosofis. Kekuasaan yang paling besar bukanlah kemampuan menguasai wilayah.
Kekuasaan yang paling besar adalah kemampuan menentukan siapa yang dianggap berhasil, gagal, maju, atau tertinggal.
Dari titik inilah muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar membahas kemiskinan: siapa yang berhak menentukan nilai sebuah masyarakat?
Dunia modern cenderung mengukur segala sesuatu. Manusia diukur melalui angka. Daerah diukur melalui indeks. Keberhasilan diukur melalui grafik.
Padahal ada satu hal yang tidak pernah dapat dihitung secara utuh oleh statistik mana pun: “Martabat”. Martabat manusia selalu lebih besar daripada seluruh instrumen yang mencoba mengukurnya.
Aku Hitam dan Cantik
Di tengah dunia yang gemar memberi label, seorang perempuan dalam Kitab Kidung Agung berdiri dengan keberanian yang mengejutkan. Ia berkata, “Aku hitam dan cantik” (Kidung Agung 1:5).
Banyak orang membaca ayat itu sebagai puisi cinta. Saya justru membacanya sebagai deklarasi kemerdekaan. Perempuan itu tidak sedang berbicara tentang warna kulit semata. Ia sedang berbicara tentang hak untuk mendefinisikan dirinya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-07.jpg)