Senin, 8 Juni 2026

Opini

Opini: Aku Hitam dan Cantik- Ketika NTT Menolak Didefinisikan oleh Lukanya

NTT lebih sering muncul sebagai kumpulan persoalan yang menunggu penyelesaian. Kemiskinan disebut. Stunting disebut.  Perdagangan orang disebut.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Ia tidak meminta maaf atas siapa dirinya. Ia tidak berusaha menjadi orang lain. Ia hanya berkata dengan tenang, “Aku hitam dan cantik.”

Kalimat itu adalah penolakan terhadap kekuasaan yang mencoba menentukan nilai dirinya. Martabatnya tidak berasal dari penilaian manusia. 

Martabatnya berasal dari fakta bahwa ia adalah ciptaan Allah. Pembacaan Wabyanga (2021) menunjukkan bahwa pengakuan tersebut dapat dipahami sebagai afirmasi identitas yang menolak stigma terhadap kelompok yang dipandang rendah.

Karena itu ayat ini terasa sangat dekat dengan pengalaman NTT. Persoalannya bukan tentang warna kulit. Persoalannya adalah tentang martabat.

NTT memang memiliki kemiskinan. NTT memang memiliki berbagai luka sosial. Akan tetapi kenyataan itu tidak pernah cukup untuk menjelaskan siapa sesungguhnya masyarakat NTT

Sebagaimana perempuan dalam Kidung Agung menolak didefinisikan oleh stigma yang dilekatkan kepadanya, demikian pula NTT berhak menolak didefinisikan semata mata oleh luka yang dimilikinya.

Dari tanah yang terlalu lama disebut tertinggal, suara itu seolah terdengar kembali:

Kami terluka dan bermartabat.

Kami memiliki masalah, tetapi kami bukan masalah itu.

Kami disebut tertinggal, tetapi kami tidak kehilangan panggilan untuk berjalan.

Lebih Besar daripada Statistik

Beberapa waktu lalu saya duduk di sebuah rumah sederhana di Sabu. Tidak ada  kemewahan di sana. Yang disodorkan hanyalah sirih pinang serta segelas kopi. 

Akan tetapi di ruang kecil itu saya melihat sesuatu yang jarang muncul dalam laporan pembangunan. Dan hal itu adalah: martabat.

Di rumah sederhana itu tampak orang orang yang tetap menghormati tamu meskipun hidup dalam keterbatasan. Terlihat keluarga yang tetap berbagi meskipun tidak memiliki banyak. Kemiskinan tidak berhasil merampas kemanusiaan mereka.

Pengalaman seperti itu hidup di banyak tempat di NTT. Ia hadir dalam seorang ibu penenun yang dengan sabar menyusun benang demi benang. Ia hadir dalam para petani yang tetap menanam di tanah berbatu. 

Ia hadir dalam nelayan yang membaca laut melalui kebijaksanaan yang diwariskan turun temurun. Ia hadir dalam solidaritas kampung yang membuat seseorang tidak pernah sepenuhnya sendirian ketika menghadapi kesulitan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved