Opini
Opini: Aku Hitam dan Cantik- Ketika NTT Menolak Didefinisikan oleh Lukanya
NTT lebih sering muncul sebagai kumpulan persoalan yang menunggu penyelesaian. Kemiskinan disebut. Stunting disebut. Perdagangan orang disebut.
Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Sabu Timur
E-mail: johnmhwaduneru@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur ( NTT) sudah terlalu lama diperkenalkan kepada Indonesia seperti ruang tunggu penderitaan.
Di banyak ruang percakapan nasional, Nusa Tenggara Timur sering hadir bukan sebagai rumah bagi manusia manusia yang hidup, bekerja, bermimpi, mencintai, serta berjuang.
NTT lebih sering muncul sebagai kumpulan persoalan yang menunggu penyelesaian. Kemiskinan disebut. Stunting disebut. Perdagangan orang disebut. Kekeringan disebut. Ketertinggalan disebut. Tidak ada yang salah dengan data. Kemiskinan di NTT memang masih menjadi persoalan nyata.
Badan Pusat Statistik Provinsi NTT mencatat bahwa pada September 2025 tingkat kemiskinan masih berada pada angka 17,50 persen atau sekitar 1,03 juta jiwa (BPS Provinsi NTT, 2026).
Baca juga: Opini: Dari Debat Kusir
Berbagai keterbatasan pendidikan, kesehatan, serta persoalan sosial lainnya juga masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Meski demikian, persoalan terbesar NTT sesungguhnya bukan kemiskinan ataupun stunting.
Kedua hal itu adalah masalah yang harus diselesaikan melalui kerja keras serta keberpihakan yang nyata.
Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai percaya bahwa kemiskinan adalah identitas mereka. Sebab manusia tidak hanya hidup dari kenyataan yang dialaminya.
Manusia juga hidup dari cerita yang terus menerus diceritakan tentang dirinya.
Ketika sebuah daerah terlalu lama diperkenalkan melalui kekurangannya, lambat laun kekurangan itu tidak lagi dipandang sebagai persoalan yang harus diatasi.
Ia berubah menjadi cara melihat manusia yang hidup di dalamnya. Di situlah luka berhenti menjadi pengalaman hidup. Luka berubah menjadi nama.
Pengalaman itu tidak asing bagi banyak orang NTT. Sebagian mahasiswa yang melanjutkan studi di luar daerah masih menerima pertanyaan tentang listrik, sekolah, atau kehidupan di kampung halaman mereka.
Pertanyaan seperti itu mungkin tampak sederhana. Akan tetapi di baliknya sering tersembunyi penilaian tentang siapa mereka. Di situlah sebuah stigma mulai bekerja.
Kenyataan sesungguhnya tidak sesederhana itu. Indeks Pembangunan Manusia NTT pada tahun 2025 mencapai 69,89 atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi NTT pada triwulan pertama tahun 2026 juga mencapai 5,32 persen (BPS Provinsi NTT, 2025; 2026). NTT tidak sedang diam di dalam luka.
NTT sedang bertumbuh. NTT sedang bekerja. NTT sedang berjuang memperbaiki dirinya. Ironisnya, ruang publik lebih mudah mengingat krisis daripada pemulihan.
Penjajahan yang Bekerja Melalui Cara Pandang
Setiap zaman memiliki bentuk penjajahannya sendiri. Pada masa lalu, manusia dijajah melalui tanah yang dirampas atau tenaga yang dieksploitasi.
Pada masa kini, penjajahan sering kali bekerja melalui cara berpikir. Ia tidak lagi merebut tanah. Ia merebut makna.
Kajian tentang media framing menunjukkan bahwa media tidak hanya menyampaikan kenyataan, tetapi juga memengaruhi cara publik memahami kenyataan tersebut (Entman, 1993).
Ketika sebuah daerah terus-menerus diperkenalkan melalui kemiskinan, stunting, atau perdagangan orang, yang tinggal dalam ingatan publik bukan lagi persoalannya, melainkan citranya.
Orang tidak lagi berkata bahwa NTT memiliki kemiskinan. Orang mulai berpikir bahwa kemiskinan adalah NTT.
Ranajit Guha mengingatkan bahwa kelompok yang dimarjinalkan sering kali kehilangan kesempatan untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Mereka lebih sering diceritakan daripada menceritakan dirinya (Guha, 1997).
Di sinilah persoalan ini menjadi lebih filosofis. Kekuasaan yang paling besar bukanlah kemampuan menguasai wilayah.
Kekuasaan yang paling besar adalah kemampuan menentukan siapa yang dianggap berhasil, gagal, maju, atau tertinggal.
Dari titik inilah muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar membahas kemiskinan: siapa yang berhak menentukan nilai sebuah masyarakat?
Dunia modern cenderung mengukur segala sesuatu. Manusia diukur melalui angka. Daerah diukur melalui indeks. Keberhasilan diukur melalui grafik.
Padahal ada satu hal yang tidak pernah dapat dihitung secara utuh oleh statistik mana pun: “Martabat”. Martabat manusia selalu lebih besar daripada seluruh instrumen yang mencoba mengukurnya.
Aku Hitam dan Cantik
Di tengah dunia yang gemar memberi label, seorang perempuan dalam Kitab Kidung Agung berdiri dengan keberanian yang mengejutkan. Ia berkata, “Aku hitam dan cantik” (Kidung Agung 1:5).
Banyak orang membaca ayat itu sebagai puisi cinta. Saya justru membacanya sebagai deklarasi kemerdekaan. Perempuan itu tidak sedang berbicara tentang warna kulit semata. Ia sedang berbicara tentang hak untuk mendefinisikan dirinya sendiri.
Ia tidak meminta maaf atas siapa dirinya. Ia tidak berusaha menjadi orang lain. Ia hanya berkata dengan tenang, “Aku hitam dan cantik.”
Kalimat itu adalah penolakan terhadap kekuasaan yang mencoba menentukan nilai dirinya. Martabatnya tidak berasal dari penilaian manusia.
Martabatnya berasal dari fakta bahwa ia adalah ciptaan Allah. Pembacaan Wabyanga (2021) menunjukkan bahwa pengakuan tersebut dapat dipahami sebagai afirmasi identitas yang menolak stigma terhadap kelompok yang dipandang rendah.
Karena itu ayat ini terasa sangat dekat dengan pengalaman NTT. Persoalannya bukan tentang warna kulit. Persoalannya adalah tentang martabat.
NTT memang memiliki kemiskinan. NTT memang memiliki berbagai luka sosial. Akan tetapi kenyataan itu tidak pernah cukup untuk menjelaskan siapa sesungguhnya masyarakat NTT.
Sebagaimana perempuan dalam Kidung Agung menolak didefinisikan oleh stigma yang dilekatkan kepadanya, demikian pula NTT berhak menolak didefinisikan semata mata oleh luka yang dimilikinya.
Dari tanah yang terlalu lama disebut tertinggal, suara itu seolah terdengar kembali:
Kami terluka dan bermartabat.
Kami memiliki masalah, tetapi kami bukan masalah itu.
Kami disebut tertinggal, tetapi kami tidak kehilangan panggilan untuk berjalan.
Lebih Besar daripada Statistik
Beberapa waktu lalu saya duduk di sebuah rumah sederhana di Sabu. Tidak ada kemewahan di sana. Yang disodorkan hanyalah sirih pinang serta segelas kopi.
Akan tetapi di ruang kecil itu saya melihat sesuatu yang jarang muncul dalam laporan pembangunan. Dan hal itu adalah: martabat.
Di rumah sederhana itu tampak orang orang yang tetap menghormati tamu meskipun hidup dalam keterbatasan. Terlihat keluarga yang tetap berbagi meskipun tidak memiliki banyak. Kemiskinan tidak berhasil merampas kemanusiaan mereka.
Pengalaman seperti itu hidup di banyak tempat di NTT. Ia hadir dalam seorang ibu penenun yang dengan sabar menyusun benang demi benang. Ia hadir dalam para petani yang tetap menanam di tanah berbatu.
Ia hadir dalam nelayan yang membaca laut melalui kebijaksanaan yang diwariskan turun temurun. Ia hadir dalam solidaritas kampung yang membuat seseorang tidak pernah sepenuhnya sendirian ketika menghadapi kesulitan.
Kehadiran martabat itu juga tampak di banyak jemaat kecil Gereja Masehi Injili di Timor ( GMIT). Selama lebih dari tujuh dekade, GMIT bertumbuh di pulau pulau kecil, di tanah yang kering, serta di tengah berbagai keterbatasan.
Fakta bahwa gereja ini tetap hidup, bahkan menjadi salah satu kekuatan sosial terbesar di NTT, menunjukkan bahwa luka tidak pernah menjadi identitas terakhir sebuah masyarakat.
Dari tanah yang keras itu lahir jemaat jemaat yang setia, yang terus membuktikan bahwa harapan dapat bertumbuh bahkan ketika keadaan tampak tidak bersahabat.
Di sana saya belajar satu hal: Luka mungkin menjadi bagian dari sejarah. Akan tetapi luka tidak pernah menjadi identitas terakhir.
Sebelum Statistik, Ada Martabat
Pada akhirnya, tulisan ini bukan terutama tentang NTT. Tulisan ini adalah tentang manusia. Tulisan ini adalah tentang siapa yang berhak menentukan nilai manusia.
Sejak awal Alkitab telah memberikan jawaban yang sangat jelas. Sebelum ada indeks pembangunan. Sebelum ada angka kemiskinan.
Sebelum ada laporan statistik. Allah lebih dahulu memandang ciptaan-Nya lalu berkata, “Sungguh amat baik” (Kejadian 1:31).
Kalimat itu adalah fondasi martabat. Maknanya sederhana sekaligus radikal. Manusia selalu lebih besar daripada statistiknya.
Masyarakat selalu lebih besar daripada persoalannya. Sebuah daerah selalu lebih besar daripada luka lukanya.
Kesadaran itulah yang membuat NTT tidak perlu menyangkal kenyataan yang ada. Kritik tetap diperlukan. Perbaikan tetap harus dilakukan.
Data tetap harus dibaca dengan jujur. Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh diserahkan kepada luka: “Martabat”
Ukuran Allah terhadap manusia berbeda dari ukuran yang sering dipakai dunia. Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak luka yang pernah dimiliki sebuah masyarakat. Tuhan akan bertanya apakah masyarakat itu masih percaya bahwa dirinya dikasihi.
Dari tanah yang terlalu lama diperkenalkan melalui penderitaannya, suara itu terdengar kembali. Bukan suara kesombongan. Bukan suara penyangkalan. Melainkan suara manusia yang akhirnya berdamai dengan martabat yang diberikan Allah.
Aku hitam dan cantik.
Aku terluka, tetapi tidak kehilangan martabatku.
Aku Tirza, juita seperti Yerusalem
Aku Nusa Tenggara Timur.
NTT bukan luka yang sedang meminta belas kasihan. NTT adalah manusia manusia yang terlalu lama diperkenalkan melalui penderitaannya, lalu perlahan belajar kembali melihat dirinya melalui mata Allah.
Dari sanalah suara itu terdengar kembali dengan tenang sekaligus teguh: Aku hitam dan cantik. (*)
Daftar Rujukan
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2025). Indeks pembangunan manusia Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2025. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Berita resmi statistik: Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur triwulan I tahun 2026.
Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. - Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Profil kemiskinan Provinsi Nusa Tenggara Timur September 2025. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur.
- Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x
- Guha, R. (1997). Dominance without hegemony: History and power in colonial India. Harvard University Press.
- Wabyanga, R. K. (2021). “I am black and beautiful”: A Black African reading of Song of Songs 1:5–7 as a protest song. Old Testament Essays, 34(2), 588–609. https://doi.org/10.17159/2312-3621/2021/v34n2a16
- Alkitab. (2018). Alkitab Terjemahan Baru Edisi 2. Lembaga Alkitab Indonesia.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-07.jpg)