Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas

Banyak negara mulai menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat lagi diukur hanya melalui nilai akademik. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DAMASUS LADOLALENG
Damasus Lodolaleng 

Karakter seorang anak dibentuk oleh seluruh lingkungan yang mengelilinginya. Keluarga adalah sekolah pertama yang mengajarkan kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kasih sayang. 

Namun kesibukan orang tua sering kali membuat ruang dialog dalam keluarga semakin berkurang. 

Banyak anak kini lebih akrab dengan layar telepon genggam dibandingkan percakapan hangat bersama orang tua mereka. 

Di sisi lain, ruang-ruang kerohanian yang dahulu menjadi tempat pembinaan moral generasi muda juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. 

Sebagian anak dan remaja semakin jauh dari aktivitas pembinaan iman yang seharusnya membantu mereka memahami nilai kasih, pengampunan, pelayanan, dan penghargaan terhadap sesama.

Lingkungan pergaulan juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Pada masa remaja, teman sebaya sering kali menjadi rujukan utama dalam mengambil keputusan. 

Ketika lingkungan pergaulan dipenuhi budaya kekerasan, perundungan, dan perilaku negatif lainnya, maka nilai-nilai tersebut mudah ditiru dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. 

Namun tantangan terbesar hari ini mungkin datang dari ruang yang tidak terlihat seperti dunia digital. 

Media sosial telah menjadi guru baru bagi generasi muda. TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, dan berbagai platform lainnya tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga membentuk cara berpikir, pola perilaku, bahkan nilai hidup seseorang. 

Dalam banyak kasus, media sosial lebih berpengaruh daripada guru, orang tua, maupun tokoh agama. 

Anak-anak menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan layar, menyerap berbagai informasi tanpa selalu memiliki kemampuan untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk. 

Ini menyebabkan generasi muda hidup dalam arus informasi yang sangat deras. Mereka mudah terpapar budaya instan, ujaran kebencian, hoaks, perilaku konsumtif, dan berbagai bentuk kekerasan verbal yang perlahan dianggap sebagai hal biasa. 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap masa depan bangsa.

Pada momentum kali ini ada relevansi Pancasila kembali menemukan maknanya. Krisis karakter sesungguhnya adalah krisis penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila itu sendiri. 

Ketika kekerasan dan perundungan terjadi di sekolah, sila kedua tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sedang dilanggar. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved