Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas

Banyak negara mulai menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat lagi diukur hanya melalui nilai akademik. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DAMASUS LADOLALENG
Damasus Lodolaleng 

Menurutnya, karakter yang baik terdiri atas tiga unsur utama yakini moral knowing, moral feeling, dan moral action. 

Artinya, seseorang tidak cukup hanya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ia juga harus mencintai kebaikan dan membiasakan diri melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam konteks Indonesia, persoalannya bukan karena anak-anak tidak mengetahui bahwa perundungan itu salah, kekerasan itu buruk, atau menyontek itu tidak terpuji. 

Persoalannya adalah pengetahuan tersebut belum sepenuhnya menjelma menjadi perilaku hidup. 

Sementara itu Ki Hadjar Dewantara jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. 

Pendidikan bukan sekadar mengejar nilai rapor atau kelulusan ujian. Pendidikan adalah upaya membentuk manusia yang beradab. 

Karena itu, ketika sekolah berhasil meluluskan siswa yang cerdas tetapi gagal membentuk karakter mereka, sesungguhnya pendidikan belum mencapai tujuan utamanya. 

Berbagai data menunjukkan bahwa persoalan karakter di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ribuan kasus pelanggaran hak anak sepanjang tahun 2025. 

Sebagian besar kasus tersebut berkaitan dengan kekerasan terhadap anak, dan lebih dari sepertiganya terjadi di lingkungan pendidikan. 

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga mencatat peningkatan kasus kekerasan di sekolah dalam beberapa tahun terakhir. 

Fakta ini menunjukkan bahwa sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi tumbuh kembang anak justru masih menyimpan berbagai persoalan yang mengancam pembentukan karakter peserta didik.

Di Nusa Tenggara Timur, situasi ini juga patut menjadi perhatian bersama. Data pemerintah daerah menunjukkan ratusan kasus kekerasan terhadap anak masih terjadi sepanjang tahun 2025. 

Selain itu, masyarakat juga mulai mengkhawatirkan munculnya gejala menurunnya budaya hormat kepada orang tua dan guru, melemahnya semangat gotong royong, serta semakin kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk cara berpikir generasi muda. 

Kita harus jujur dan mengakui bahwa krisis karakter tidak lahir dari sekolah semata. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved