Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani

Sebanyak 90 persen responden menyatakan telah menerapkan informasi digital dalam kegatan usahatani mereka. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARYANCE VIVI M. BANA
Maryance Vivi Murnia Bana 

Menurut Putri et al, (2026) platform digital seperti WhatsApp, berperan sebagai penyedia informasi, fasilitator diskusi, serta media penggunaan jaringan sosial petani. 

Media ini dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan sesama petani, penyuluh pertanian, maupun anggota kelompok tani melalui pesan pribadi atau group diskusi. 

Melalui WhatsApp, petani dapat bertanya secara langsung jika mengalami masalah di lahan, seperti tanaman terserang hama atau pertumbuhan yang tidak normal. 

Jawaban yang cepat dan praktis membuat media ini sangat membantu dalam kegiatan sehari hari.

Facebook digunakan oleh 20 persen responden sebagai sumber informasi tambahan. 

Petani mengikuti halaman atau group yang membahas pertanian, melihat postingan tentang teknik budidaya, serta berbagai pengalaman dengan petani dari daerah lain. 

Menurut Putri et al, (2026), platform digital seperti Facebook, berperan sebagai penyedia informasi, fasilitator diskusi, serta media penggunaan jaringan sosial petani. 

Sementara itu, hanya 10 persen petani yang menggunakan Google atau website sebagai sumber pelajar utama. 

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani lebih menyukai informasi visual dan komunikasi langsung dibandingkan membaca artikel panjang di internet.

Tidak hanya mencari informasi, sebagian besar petani juga menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh dari media digital. 

Sebanyak 90 persen responden menyatakan telah menerapkan informasi digital dalam kegatan usahatani mereka. 

Bentuk penerapan ini sangat beragam, mulai dari pengaturan jarak tanam agar tanaman tumbuh optimal, penggunaan dosis pupuk yang sesuai, pembuatan pestisida nabati dari bahan alami, hingga penerapan sistem tanaman tertentu seperti jajar legowo. 

Sebanyak 90 persen petani menyatakan bahwa setelah menonton video di Youtube, mereka mencoba membuat pupuk cair dari bahan bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah, seperti daun daunan, air cucian beras, dan kotoran ternak. 

Adapula petani yang mulai mencoba teknik pengendalian hama secara alami setelah melihat contoh dari media digital, sehingga tidak terlalu bergantung pada pestisida kimia. 

Selain itu, informasi tentang waktu panen yang tepat dan cara penanganan pascapanen juga mulai diterapkan untuk menjaga kualitas hasil.

Baca juga: Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved