Opini
Opini: Belajar Mendalam atau Sekadar Rumit?
Paulo Freire (1921) menyebut model pendidikan yang hanya mentransfer informasi sebagai banking education.
Siswa dapat menemukan hampir semua jawaban melalui internet dan kecerdasan buatan. Namun ironisnya, limpahan informasi tidak otomatis membuat manusia lebih bijaksana.
Dunia justru dipenuhi polarisasi, krisis ekologis, kekerasan sosial, dan kehilangan makna hidup. Mungkin masalah terbesar pendidikan modern bukan kurangnya pengetahuan.
Masalahnya justru karena pendidikan terlalu sibuk mengelola informasi dan lupa membangun kesadaran.
Ketika Pengetahuan Menjadi Terlalu Sempit
Dalam filsafat ilmu, Thomas Kuhn (1962) pernah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berkembang melalui paradigma.
Paradigma bukan hanya kumpulan teori, tetapi cara melihat dunia. Ia menentukan apa yang dianggap benar, rasional, dan layak disebut pengetahuan.
Masalahnya, pendidikan modern sering memperlakukan paradigma dominan sebagai sesuatu yang netral dan universal. Siswa diajarkan teori tanpa diajak memahami bahwa setiap teori lahir dari konteks sejarah tertentu.
Pengetahuan tampil seolah bebas nilai, padahal selalu membawa cara tertentu dalam memahami manusia dan dunia. Akibatnya sekolah sering menghasilkan kepatuhan epistemik.
Siswa terbiasa mencari jawaban yang benar menurut sistem, bukan mempertanyakan kerangka berpikir yang digunakan sistem itu sendiri. Di sinilah pembelajaran mendalam perlu dibaca lebih jauh.
Kedalaman belajar tidak cukup hanya berarti memahami materi lebih detail. Kedalaman belajar berkaitan dengan kemampuan melihat hubungan antara pengetahuan dan kehidupan.
Siswa tidak hanya belajar “apa yang diketahui,” tetapi juga “bagaimana pengetahuan itu dibentuk” dan “siapa yang diuntungkan dari cara berpikir tertentu.”
Pertanyaan seperti ini penting karena pengetahuan tidak pernah benar-benar berdiri di ruang kosong. Contohnya sederhana. Ketika siswa belajar tentang pembangunan ekonomi, apakah mereka juga diajak memahami dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat adat?
Ketika belajar teknologi digital, apakah mereka juga berdiskusi tentang kecanduan informasi, manipulasi data, atau hilangnya ruang privat manusia? Ketika belajar sejarah, apakah mereka hanya menghafal tanggal dan tokoh, atau juga diajak memahami bagaimana kekuasaan membentuk narasi sejarah?
Tanpa refleksi seperti itu, pembelajaran mendalam mudah berubah menjadi sekadar latihan kognitif tingkat tinggi.
Paulo Freire (1921) menyebut model pendidikan yang hanya mentransfer informasi sebagai banking education.
Dalam model ini guru menjadi pemilik pengetahuan, sementara siswa diposisikan sebagai wadah kosong yang harus diisi. Freire menawarkan pendidikan dialogis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petrus-Redy-Partus-Jaya.jpg)