Opini
Opini: Menyembelih Ego di Altar Kehidupan
Kita hidup di tengah masyarakat yang terlalu mudah memuliakan manusia karena atribut keduniawiannya.
Kematian dan Lapangan Shalat Idul Adha: Pengingat Tentang Kesetaraan
Coba perhatikan ketika kita berdiri di lapangan atau masjid saat menunaikan Shalat Idul Adha 1447 H. Di dalam barisan saf, tidak ada tanda pengenal jabatan.
Seorang pejabat tinggi bisa jadi berdiri berdampingan dengan seorang buruh cuci. Seorang miliarder merapatkan kakinya dengan seorang fakir miskin. Mereka sujud dengan dahi yang sama-sama menyentuh bumi.
Ini adalah simulasi kecil dari apa yang akan terjadi di hadapan kematian. Di hadapan kematian, semua perbedaan dunia runtuh.
Tidak ada lagi singgasana, tidak ada lagi status sosial, tidak ada lagi jarak antara mereka yang dulu dipandang mulia dan mereka yang dianggap biasa.
Tubuh manusia akan kembali menjadi tanah dengan cara yang sama: sunyi, sendiri, terbungkus selembar kain putih tanpa kantong untuk membawa kartu kredit, papan nama, atau piagam penghargaan.
Satu-satunya yang ikut masuk ke dalam liang lahat adalah jejak perbuatan dan ketulusan kita selama hidup.
Manusia Sering Terlalu Sibuk Bermain Peran
Ada orang yang menghabiskan hidupnya hanya untuk terlihat penting di mata dunia, tetapi lupa menjadi baik kepada sesama. Ia sibuk menjaga citra, mengejar penghormatan, dan membangun menara kebesaran dirinya sendiri.
Padahal ketika semua selesai, dunia tidak akan terlalu lama mengingat seberapa tinggi jabatan seseorang. Yang lebih membekas dan abadi justru bagaimana ia memperlakukan manusia lain selama hidupnya.
Di dalam Islam, konsep ini tercermin indah dalam pembagian daging qurban. Hewan yang disembelih tidak dinikmati sendiri, melainkan dibagi secara adil kepada fakir miskin dan tetangga sekitar.
Qurban mengajarkan kita untuk turun dari menara gading, melihat ke bawah, dan merasakan lapar serta susahnya orang lain.
Manusia tidak benar-benar dikenang karena tahtanya, melainkan karena kebaikan hatinya. Rasulullah SAW menegaskan:
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)
Kesimpulan: Menjadi Bijaksana Sebelum Kembali ke Kotak yang Sama
Semakin seseorang memahami hakikat hidup dan ajaran Islam, semakin ia sadar bahwa tidak ada alasan untuk menjadi sombong.
Semua yang kita miliki hari ini bisa hilang kapan saja. Semua yang kita banggakan suatu hari nanti pasti akan ditinggalkan.
Kesadaran tentang kefanaan ini bukan untuk membuat kita putus asa atau berhenti berusaha, melainkan agar kita belajar hidup dengan lebih bijaksana.
H. Muhammad G. Arifoeddin
Muhammad G. Arifoeddin
Qurban
Idul Qurban
Idul Adha 1447 Hijriyah
Opini Pos Kupang
| Opini: Pancasila dalam Anggaran |
|
|---|
| Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger |
|
|---|
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Muhammad-G-Arifoeddin-01.jpg)