Sabtu, 30 Mei 2026

Opini

Opini: Menyembelih Ego di Altar Kehidupan

Kita hidup di tengah masyarakat yang terlalu mudah memuliakan manusia karena atribut keduniawiannya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MUHAMMAD G.ARIFOEDDIN
Muhammad G. Arifoeddin 

Kematian dan Lapangan Shalat Idul Adha: Pengingat Tentang Kesetaraan
Coba perhatikan ketika kita berdiri di lapangan atau masjid saat menunaikan Shalat Idul Adha 1447 H. Di dalam barisan saf, tidak ada tanda pengenal jabatan. 

Seorang pejabat tinggi bisa jadi berdiri berdampingan dengan seorang buruh cuci. Seorang miliarder merapatkan kakinya dengan seorang fakir miskin. Mereka sujud dengan dahi yang sama-sama menyentuh bumi.

Ini adalah simulasi kecil dari apa yang akan terjadi di hadapan kematian. Di hadapan kematian, semua perbedaan dunia runtuh. 

Tidak ada lagi singgasana, tidak ada lagi status sosial, tidak ada lagi jarak antara mereka yang dulu dipandang mulia dan mereka yang dianggap biasa.

Tubuh manusia akan kembali menjadi tanah dengan cara yang sama: sunyi, sendiri, terbungkus selembar kain putih tanpa kantong untuk membawa kartu kredit, papan nama, atau piagam penghargaan. 

Satu-satunya yang ikut masuk ke dalam liang lahat adalah jejak perbuatan dan ketulusan kita selama hidup.

Manusia Sering Terlalu Sibuk Bermain Peran

Ada orang yang menghabiskan hidupnya hanya untuk terlihat penting di mata dunia, tetapi lupa menjadi baik kepada sesama. Ia sibuk menjaga citra, mengejar penghormatan, dan membangun menara kebesaran dirinya sendiri.

Padahal ketika semua selesai, dunia tidak akan terlalu lama mengingat seberapa tinggi jabatan seseorang. Yang lebih membekas dan abadi justru bagaimana ia memperlakukan manusia lain selama hidupnya. 

Di dalam Islam, konsep ini tercermin indah dalam pembagian daging qurban. Hewan yang disembelih tidak dinikmati sendiri, melainkan dibagi secara adil kepada fakir miskin dan tetangga sekitar.

Qurban mengajarkan kita untuk turun dari menara gading, melihat ke bawah, dan merasakan lapar serta susahnya orang lain. 

Manusia tidak benar-benar dikenang karena tahtanya, melainkan karena kebaikan hatinya. Rasulullah SAW menegaskan:

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)

Kesimpulan: Menjadi Bijaksana Sebelum Kembali ke Kotak yang Sama

Semakin seseorang memahami hakikat hidup dan ajaran Islam, semakin ia sadar bahwa tidak ada alasan untuk menjadi sombong. 

Semua yang kita miliki hari ini bisa hilang kapan saja. Semua yang kita banggakan suatu hari nanti pasti akan ditinggalkan.

Kesadaran tentang kefanaan ini bukan untuk membuat kita putus asa atau berhenti berusaha, melainkan agar kita belajar hidup dengan lebih bijaksana. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved