Opini
Opini: Menyembelih Ego di Altar Kehidupan
Kita hidup di tengah masyarakat yang terlalu mudah memuliakan manusia karena atribut keduniawiannya.
“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridhaan)-Nya adalah ketakwaan kamu...” (QS. Al-Hajj: 37)
Momentum Idul Adha 1447 H mengajak kita merefleksikan kembali: Sudahkah kita menyembelih "ego" kita?
Ataukah selama ini kita justru memelihara keangkuhan tersebut dan mengorbankan orang lain demi memuaskan nafsu kekuasaan kita?
Kekuasaan Hanya Singgah Sementara: Belajar dari Ibrahim dan Ismail
Banyak manusia lupa bahwa posisi yang ia banggakan hari ini sebenarnya hanyalah titipan waktu.
Jabatan bisa hilang dalam sekejap, kekayaan bisa berpindah tangan, popularitas bisa memudar, dan manusia yang dulu dipuja perlahan akan dilupakan oleh dunia yang terus bergerak.
Namun anehnya, demi sesuatu yang sementara itu, manusia sering berubah menjadi keras.
Ia rela merendahkan orang lain, menindas, bahkan kehilangan nuraninya sendiri hanya agar tetap berada di puncak teratas.
Padahal sejarah Islam berkali-kali menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi. Semua yang tinggi pada akhirnya akan turun.
Refleksi Nyata: Tengoklah kisah Nabi Ibrahim AS
Beliau adalah seorang ayah yang mendapatkan titipan anak yang begitu dinantikannya, Ismail AS.
Ketika Allah menguji Ibrahim untuk menyembelih Ismail, ujian aslinya bukanlah tentang pisau dan leher sang anak, melainkan tentang meruntuhkan rasa kepemilikan.
Allah ingin menguji apakah di dalam hati Ibrahim ada yang lebih besar daripada Allah.
Ketika Ibrahim meruntuhkan ego "kepemilikan" tersebut dan berserah diri sepenuhnya, Allah menggantinya dengan seekor domba yang besar.
Kisah ini adalah tamparan bagi kita di tahun 2026: jika Nabi Ibrahim sang kekasih Allah (Khalilullah) bersedia melepas apa yang paling ia cintai, lalu dengan hak apa kita menggenggam erat jabatan, harta, dan gengsi duniawi seolah-olah itu milik kita selamanya?
Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang hakikat harta yang sebenarnya dalam sebuah hadis:
“Hamba berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal hartanya yang sesungguhnya hanyalah tiga: apa yang ia makan lalu sirna, apa yang ia pakai lalu usang, dan apa yang ia sedekahkan lalu tetap abadi (di akhirat). Sisa dari itu akan lenyap dan ditinggalkan untuk manusia.” (HR. Muslim)
H. Muhammad G. Arifoeddin
Muhammad G. Arifoeddin
Qurban
Idul Qurban
Idul Adha 1447 Hijriyah
Opini Pos Kupang
| Opini: Pancasila dalam Anggaran |
|
|---|
| Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger |
|
|---|
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Muhammad-G-Arifoeddin-01.jpg)