Sabtu, 30 Mei 2026

Opini

Opini: Magnifica Humanitas- Refleksi Paus Leo XIV atas Perbudakan Digital dan Realitas NTT

Dokumen tersebut menegaskan bahwa kemajuan teknologi hanya memiliki makna sejati jika tetap menghormati martabat manusia. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOHANES GOA
Yohanes Goa 

Dalam dunia digital, hal ini tampak ketika nilai seseorang diukur berdasarkan jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau tingkat popularitas. 

Martabat manusia yang bersifat tetap dan melekat sejak awal perlahan digantikan oleh nilai-nilai artifisial yang dibentuk media sosial.

Refleksi Paus Leo XIV memiliki akar yang sangat dalam dalam tradisi ajaran sosial Gereja. Sejak lama Gereja menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. 

Karena itu, setiap pribadi memiliki martabat yang tidak dapat diukur dengan keuntungan ekonomi, status sosial, maupun kemampuan teknologis. 

Dalam terang iman Kristiani, manusia bukan benda yang dapat dipakai dan dibuang. Manusia adalah pribadi yang memiliki nilai pada dirinya sendiri. 

Ketika teknologi mulai memperlakukan manusia seperti komoditas digital atau objek hiburan, sebenarnya yang sedang terluka bukan hanya relasi sosial, melainkan juga pandangan dasar tentang hakikat manusia.

Dalam konteks media sosial, bentuk “perbudakan gaya baru” yang dimaksud Paus dapat dipahami secara lebih mendalam. Dahulu perbudakan terjadi melalui kekuatan fisik dan paksaan terbuka. 

Sekarang perbudakan dapat hadir melalui ketergantungan psikologis dan budaya digital. Banyak orang tanpa sadar menggantungkan harga dirinya pada pengakuan publik di media sosial. 

Kehidupan pribadi dipertontonkan demi perhatian, sementara identitas diri dibentuk oleh respons dunia maya. Akibatnya manusia perlahan kehilangan kebebasan batin. 

Ia tidak lagi bertindak berdasarkan nilai yang diyakininya, tetapi berdasarkan apa yang dianggap menarik, viral, dan diterima banyak orang.

Bagi masyarakat NTT, refleksi ini menjadi sangat penting. NTT memiliki budaya komunal yang menekankan solidaritas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama. 

Nilai-nilai tersebut sebenarnya dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi tantangan dunia digital. 

Namun jika masyarakat hanya mengikuti arus perkembangan teknologi tanpa sikap kritis, budaya digital dapat mengikis nilai-nilai tersebut. 

Ruang digital berpotensi menjadi tempat lahirnya sikap saling menghakimi, penyebaran kebencian, dan hilangnya kepekaan terhadap penderitaan sesama.

Karena itu, pesan Magnifica Humanitas bukan sekadar ajakan moral agar manusia menggunakan teknologi dengan baik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved