Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: NTT Kehilangan Ruang Mendengar

Kesaksian terbesar justru terletak pada siapa yang masih mampu mendengar ratapan manusia tanpa kehilangan kelembutan hati.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Roh Kudus justru menghormati pengalaman manusia dengan mendatangi mereka melalui bahasa ibu mereka sendiri.

Pesan teologis ini sangat radikal. Allah tidak hadir dengan bahasa yang memaksa manusia tunduk. Allah hadir dengan bahasa yang memungkinkan manusia merasa dipahami.

Majelis Sinode GMIT dalam Laporan Majelis Sinode Tahun 2024 mengingatkan bahwa gereja tidak boleh hanya dilihat sebagai pranata ritual keagamaan semata, melainkan komunitas yang menghadirkan kasih, merangkul perbedaan, memperjuangkan keadilan dan membangun relasi yang sehat dalam kehidupan bersama. 

Dokumen yang sama juga menegaskan bahwa salah satu persoalan serius dalam kehidupan bergereja hari ini adalah melemahnya kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan memahami orang lain, membangun relasi, berempati dan menjaga komunikasi yang sehat dalam persekutuan. 

Laporan itu juga mencatat bahwa sekitar 87 persen populasi dan sumber daya GMIT berada di desa, sementara GMIT melayani 57 klasis dan lebih dari 2.400 jemaat, jemaat bermata jemaat, serta pos pelayanan. 

Realitas tersebut memperlihatkan bahwa krisis mendengar di NTT bukan hanya persoalan media sosial perkotaan, melainkan menyentuh ruang desa, keluarga, sekolah dan jemaat. 

Di tengah dunia yang semakin kasar, gereja dipanggil menghadirkan apa yang dapat disebut sebagai soft spoken theology. Bukan teologi yang lemah, melainkan teologi yang cukup matang untuk tidak ikut berteriak. 

Gereja perlu jujur bahwa tidak semua luka umat selesai dengan nasihat. Tidak semua kecemasan perlu segera dijawab dengan ayat. 

Kadang gereja gagal bukan karena kekurangan khotbah, melainkan karena kekurangan ruang mendengar.

Teologi seperti itu mampu menjadi ruang terapeutik sosial. Ruang di mana manusia kecil tidak langsung dihakimi. 

Ruang di mana luka didengar sebelum dijelaskan. Ruang di mana gereja tidak sibuk memenangkan debat sambil kehilangan manusia.

Pesan Paus Fransiskus tentang listening with the ear of the heart terasa sangat relevan dalam konteks ini (Francis, 2022). 

Mendengar bukan sekadar aktivitas telinga. Mendengar adalah tindakan moral. Mendengar adalah pengakuan bahwa orang lain layak dianggap manusia.

Membangun Kembali Ruang Percakapan

NTT mungkin belum runtuh oleh kemiskinan. Belum habis oleh konflik politik. Belum tenggelam oleh media sosial. 

Namun sesuatu yang lebih sunyi sedang perlahan hilang dari tanah ini: kemampuan manusia untuk duduk, mendengar dan menganggap sesamanya penting.

Kondisi tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan slogan moral atau himbauan normatif. NTT membutuhkan pembangunan ulang budaya komunikasi sosial secara serius. 

Pemerintah daerah perlu membangun mekanisme komunikasi publik yang lebih partisipatif dan dialogis. Forum warga tidak boleh sekadar menjadi formalitas administratif. 

Kritik masyarakat harus dipandang sebagai bahan evaluasi sosial, bukan ancaman politik. Bahasa birokrasi perlu kembali menjadi bahasa manusia, bukan sekadar bahasa prosedur.

Lembaga pendidikan perlu kembali mengajarkan etika percakapan publik di tengah generasi digital yang terbiasa bereaksi cepat tetapi kurang terlatih memahami. 

Media lokal dan media sosial perlu lebih bertanggung jawab menjaga ruang diskusi yang sehat, bukan sekadar memanen kemarahan publik demi trafik. Gereja pun perlu kembali menjadi rumah pendengaran sosial.

Kesaksian iman hari ini mungkin bukan terutama tentang siapa yang paling keras berbicara tentang Tuhan. 

Kesaksian terbesar justru terletak pada siapa yang masih mampu mendengar ratapan manusia tanpa kehilangan kelembutan hati.

Kelak NTT mungkin tidak hanya dinilai dari panjang jalan yang dibangun, jumlah gedung yang berdiri, atau banyaknya program yang diumumkan. 

NTT juga akan diuji dari apakah manusia kecil di tanah ini masih memiliki tempat untuk didengar.

Ketika ruang mendengar hilang, masyarakat tidak langsung runtuh. Ia tetap ramai, tetap beribadah, tetap berpolitik, tetap membangun. Namun pelan pelan manusia di dalamnya menjadi asing satu terhadap yang lain.

Mungkin itulah tragedi paling sunyi di NTT hari ini. Manusia masih tinggal berdekatan. Masih beribadah bersama. Masih tertawa di acara keluarga. Namun pelan pelan kehilangan kemampuan untuk benar benar mendengar satu sama lain.

Barangkali itulah kemiskinan paling sunyi: hidup berdekatan, tetapi tidak lagi saling mendengar. (*)

Daftar Rujukan

  • Ali, D., & Eriyanto. (2021). Selective exposure dan polarisasi politik di media digital Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, 24(3), 249–266. https://doi.org/10.22146/jsp.58199
  • Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur. (2025). Profil kemiskinan di Nusa Tenggara Timur September 2025. https://ntt.bps.go.id
  • Francis. (2022). Listening with the ear of the heart: Message for the 56th World Day of Social Communications. Vatican. https://www.vatican.va/content/francesco/en/messages/communications/documents/20220124-messaggio-comunicazioni-sociali.html
  • Majelis Sinode GMIT. (2025). Laporan Majelis Sinode GMIT Tahun 2024. Disampaikan dalam Persidangan Majelis Sinode LIII GMIT Center, Kupang, 9–14 Februari 2025.
  • Vasist, P. N., & Krishnan, S. (2023). Political disinformation and hate speech in social media. Frontiers in Communication. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10106894/

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved