Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: NTT Kehilangan Ruang Mendengar

Kesaksian terbesar justru terletak pada siapa yang masih mampu mendengar ratapan manusia tanpa kehilangan kelembutan hati.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Di ruang digital, situasinya bahkan lebih keras. Orang tidak lagi masuk ke media sosial untuk memahami persoalan, melainkan untuk memastikan dirinya terlihat paling benar. Kritik berubah menjadi penghukuman massal. 

Komentar berubah menjadi arena pelecehan publik. Bahasa kehilangan rasa malu. 

Algoritma digital membuat manusia lebih mudah marah daripada memahami. Ia memberi hadiah kepada suara paling cepat, paling keras dan paling emosional, bukan kepada suara paling jernih.

Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat lebih dari 12.547 isu hoaks ditangani hingga akhir 2023. 

Penelitian tentang polarisasi digital Indonesia juga menunjukkan masyarakat semakin terjebak dalam “ selective exposure”, yakni kecenderungan hanya mendengar informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri (Ali & Eriyanto, 2021). 

Ruang publik akhirnya berubah menjadi ruang gema. Orang tidak lagi mencari percakapan. Orang mencari pembenaran.

Krisis terbesar kita perlahan bukan lagi sekadar krisis ekonomi atau krisis politik. 

Krisis terbesar kita mulai bergerak ke wilayah yang lebih sunyi dan lebih berbahaya: manusia kehilangan kemampuan mendengar sesamanya.

Ketika Rakyat Kecil Harus Viral Supaya Didengar

Krisis mendengar selalu paling berat dirasakan masyarakat kecil. BPS NTT mencatat angka kemiskinan NTT pada September 2025 masih berada di angka 17,50 persen (BPS NTT, 2025). 

Ombudsman NTT juga terus menyoroti kualitas pelayanan publik serta tingginya jumlah anak tidak sekolah. Di balik angka angka itu tersembunyi kelelahan sosial yang jarang dibahas serius.

Banyak warga sebenarnya tidak meminta jawaban besar. Mereka hanya ingin didengar dengan sungguh. Mama mama di pasar tidak pertama tama membutuhkan pidato pembangunan. 

Baca juga: Opini: Jangan Biarkan Proyek Mangkrak Membunuh Manfaat Publik di NTT

Mereka ingin keresahan tentang harga kebutuhan hidup dianggap penting. Nelayan kecil tidak selalu meminta seminar ekonomi biru. Mereka ingin kecemasan tentang laut dan biaya solar dipahami. 

Anak muda desa tidak selalu meminta motivasi besar. Mereka ingin kegelisahan tentang masa depan didengar tanpa dihakimi malas atau tidak kreatif.

Namun ruang sosial modern terlalu sibuk menjelaskan. Pemerintah lebih cepat membuat konferensi pers daripada membuka percakapan yang jujur. Elite politik lebih sibuk mengelola citra daripada mengelola luka sosial. 

Komunikasi birokrasi sering dipakai untuk mempertahankan legitimasi institusi, bukan untuk mendengar keresahan warga secara rendah hati.
Birokrasi modern semakin pandai berbicara dalam bahasa capaian. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved