Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: NTT Kehilangan Ruang Mendengar

Kesaksian terbesar justru terletak pada siapa yang masih mampu mendengar ratapan manusia tanpa kehilangan kelembutan hati.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Grafik ditampilkan, angka dibacakan, foto kegiatan disebarkan. Namun rakyat kecil tidak selalu membutuhkan presentasi yang rapi. Mereka membutuhkan telinga yang jujur. 

Komunikasi publik yang hanya sibuk mempertahankan citra akan melahirkan warga yang patuh di depan kantor, tetapi marah di belakang layar telepon genggam.

Satire paling menyakitkan hari ini tampak sederhana: rakyat kecil sering harus viral dulu supaya dianggap ada. 

Guru honorer harus menangis di depan kamera supaya diperhatikan. Warga desa harus membuat keributan digital agar jalan rusak dilihat pemerintah. 

Keluhan publik baru dianggap penting setelah berubah menjadi tekanan media sosial.

Situasi seperti itu perlahan menghasilkan kelelahan moral. Masyarakat mulai merasa berbicara tidak lagi berguna. Sebagian memilih diam. Sebagian memilih marah. Sebagian lain memilih sinis terhadap semua institusi. 

Tanpa kepercayaan sosial, demokrasi hanya berubah menjadi pertengkaran berkepanjangan. Pembangunan hanya menjadi deretan proyek. Pelayanan publik hanya menjadi rutinitas administratif tanpa jiwa.

Pentakosta dan Bahasa yang Menghormati Manusia

Krisis komunikasi modern sebenarnya bukan pertama tama krisis teknologi. Krisis ini adalah krisis martabat manusia. 

Manusia tidak lagi diperlakukan sebagai pribadi yang perlu dipahami, melainkan sebagai angka statistik, pemilih politik, audiens digital, atau target citra institusi.

Ketika manusia tidak lagi didengar, persoalan komunikasi berubah menjadi persoalan martabat. 

Di titik inilah Pentakosta tidak boleh dibaca hanya sebagai peristiwa liturgis, melainkan sebagai kritik rohani terhadap dunia yang memaksa semua orang berbicara dalam bahasa kuasa.

Peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2 menghadirkan pembacaan yang sangat relevan bagi ruang publik NTT hari ini. 

Pembacaan populer sering menempatkan Pentakosta hanya sebagai mukjizat berbicara dalam berbagai bahasa. Padahal inti terdalam peristiwa itu justru terletak pada kemampuan saling memahami. 

Kisah Para Rasul 2:6 mencatat bahwa masing masing orang mendengar para rasul berbicara dalam bahasa mereka sendiri.

Mukjizat Pentakosta bukan penyeragaman bahasa. Roh Kudus tidak memaksa semua manusia masuk ke satu bahasa kuasa, satu bahasa elite, atau satu bahasa agama. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved