Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko?

Negara sering ditimbun fobia,  lebih takut pada cerita daripada kenyataan. Mereka percaya narasi bisa melukai citra.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARSEL ROBOT
Marsel Robot 

Orang akan mulai membayangkan para konglomerat berdasi sedang berpesta di atas kayu hutan adat yang baru ditebang. Mereka tertawa sambil menenggak anggur impor, memandang penderitaan rakyat dari atas helikopter pribadi, sementara masyarakat adat menghitung sisa pohon yang belum berubah menjadi konsesi tambang. 

Dalam metafora seperti itu, babi menjadi simbol kerakusan, perut yang tak pernah kenyang, mulut yang terus mengunyah izin tambang, dan tangan yang panjangnya melebihi peta wilayah adat.

Negara sering ditimbun fobia,  lebih takut pada cerita daripada kenyataan. Mereka percaya narasi bisa melukai citra. Karena itu, film Pesta Babi ditanggapi seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM) versi film yang  mengancaman keamanan nasional.  

Sebab, Papua sudah terlalu lama hidup dalam suasana serba curiga. Setiap suara kritis diperlakukan seperti alarm kebakaran para tuan di Jakarta. Bendera Bintang Kejora dipandang barisan serdadu separatis yang siap menabrak istana. 

Padahal,  cuma simbol derita ketidakadilan dan dalam bahasa cinta adalah kerinduan untuk  didengar sebagai manusia sebangsa.

Ketika tentara ikut melarang, publik kontan bertanya: “Ada apa sebenarnya?” Dan justru pertanyaan itulah yang membuka pintu menuju diskursus yang lebih besar daripada film itu sendiri. 

Bahkan, mereka yang belum menonton pun ikut terjerembap ke dalam metafora besar republik ini, “babi-babi berpesta.” 

Sebab, kerakusan memang sudah menjadi adab di negeri ini. Dan realitas penderitaan rakyat Papua jauh lebih luas dan mengerikan dari apa yang diucapkan oleh film Pesta Babi

Lantas, Om Obi bertanya terakhir kalinya: “Veronika! Lu su nonton film Pesta Babi ko?” 

Kali ini Veronika menjawab seperti seorang akademisi: “Saya tidak tertarik menonton film itu. Saya lebih tertarik menonton aparat yang melarang pemutaran fim itu. Adegannya lebih dramatik, absurd, dan syarat  makna.” 

Veronika melangkah pelan dijemput senja. Sebagian ucapannya masih parkir di pelataran biskop. Dan Om Obi memasukkan kata-kata Veronika ke dalam botol sopi. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved