Opini
Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko?
Negara sering ditimbun fobia, lebih takut pada cerita daripada kenyataan. Mereka percaya narasi bisa melukai citra.
Orang akan mulai membayangkan para konglomerat berdasi sedang berpesta di atas kayu hutan adat yang baru ditebang. Mereka tertawa sambil menenggak anggur impor, memandang penderitaan rakyat dari atas helikopter pribadi, sementara masyarakat adat menghitung sisa pohon yang belum berubah menjadi konsesi tambang.
Dalam metafora seperti itu, babi menjadi simbol kerakusan, perut yang tak pernah kenyang, mulut yang terus mengunyah izin tambang, dan tangan yang panjangnya melebihi peta wilayah adat.
Negara sering ditimbun fobia, lebih takut pada cerita daripada kenyataan. Mereka percaya narasi bisa melukai citra. Karena itu, film Pesta Babi ditanggapi seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM) versi film yang mengancaman keamanan nasional.
Sebab, Papua sudah terlalu lama hidup dalam suasana serba curiga. Setiap suara kritis diperlakukan seperti alarm kebakaran para tuan di Jakarta. Bendera Bintang Kejora dipandang barisan serdadu separatis yang siap menabrak istana.
Padahal, cuma simbol derita ketidakadilan dan dalam bahasa cinta adalah kerinduan untuk didengar sebagai manusia sebangsa.
Ketika tentara ikut melarang, publik kontan bertanya: “Ada apa sebenarnya?” Dan justru pertanyaan itulah yang membuka pintu menuju diskursus yang lebih besar daripada film itu sendiri.
Bahkan, mereka yang belum menonton pun ikut terjerembap ke dalam metafora besar republik ini, “babi-babi berpesta.”
Sebab, kerakusan memang sudah menjadi adab di negeri ini. Dan realitas penderitaan rakyat Papua jauh lebih luas dan mengerikan dari apa yang diucapkan oleh film Pesta Babi.
Lantas, Om Obi bertanya terakhir kalinya: “Veronika! Lu su nonton film Pesta Babi ko?”
Kali ini Veronika menjawab seperti seorang akademisi: “Saya tidak tertarik menonton film itu. Saya lebih tertarik menonton aparat yang melarang pemutaran fim itu. Adegannya lebih dramatik, absurd, dan syarat makna.”
Veronika melangkah pelan dijemput senja. Sebagian ucapannya masih parkir di pelataran biskop. Dan Om Obi memasukkan kata-kata Veronika ke dalam botol sopi. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
film Pesta Babi
Pesta Babi
Lu kenal Veronika ko
Verry Klau
Marsel Robot
Opini Pos Kupang
Papua Selatan
Organisasi Papua Merdeka
Bendera Bintang Kejora
Meaningful
| Opini: Memandang Penderitaan sebagai Doa dalam Terang Teologi Salib Edith Stein |
|
|---|
| Opini: Menakar Krisis Iklim Kemarau Ekstrem dan Gejolak Vulkanik Lewotobi Laki-laki |
|
|---|
| Opini: Amfoang yang Terlupakan- Saat BBM Langka, Jalan Rusak dan Faskes Menjadi Pajangan |
|
|---|
| Opini: Absurdistas Hukum di Negeri Konoha |
|
|---|
| Opini: Bahasa Simbol Perlawanan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Marsel-Robot3.jpg)