Breaking News
Senin, 25 Mei 2026

Opini

Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko?

Negara sering ditimbun fobia,  lebih takut pada cerita daripada kenyataan. Mereka percaya narasi bisa melukai citra.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARSEL ROBOT
Marsel Robot 

Penonton dibubarkan dengan alasan yang tidak masuk akal. Karena itu,  publik pun langsung bereaksi dengan satu pertanyaan paling romatis, “memang ada apa sampai tentara turun tangan?” 

Aparat tidak paham, bahwa watak bawaan manusia adalah mencintai buah terlarang. Watak itu sudah diwariskan oleh  Adam dan Hawa hingga keadaan kita seperti ini. 

Kalau ada tulisan “dilarang masuk”, justru orang ingin mengintip. Kalau ada file diberi password, orang merasa penting untuk membobolnya walau isinya cuma tugas kuliah semester lalu.

Ketika film Pesta Babi dilarang, media online bergairah menawan masyarakat dalam rasa ingin tahu. Lantas, orang mulai berburu tautan. Telegram berubah menjadi bioskop bawah tanah. 

Google Drive diperlakukan seperti gudang senjata rahasia di Iran yang sedang dimutilasi Amerika. Dan film itu pun mendadak memperoleh aura mistis, seolah di dalamnya ada gundukan sabda  terakhir republik.

Teringat Paul Felix Lazarsfeld pernah menjelaskan tentang two-step flow of communication, pengaruh media tidak langsung bekerja kepada massa, melainkan lewat opinion leader, tokoh, kelompok, atau orang-orang yang menjadi perantara informasi. 

Dalam kasus ini, tentara tanpa sadar justru menciptakan opinion leader atau memproduksi viralitas film ini. Publik pun tidak lagi penasaran pada isi film. Mereka penasaran pada alasan pelarangannya. 

Ketika aparat melarang pemutaran, publik segera membaca larangan itu sebagai tanda bahwa film tersebut “berbahaya”, “penting”, atau “mengandung kebenaran yang  disembunyikan”. Inilah yang membuat ceritera film ini lebih panjang dari ceritera aslinya.  

Dalam logika komunikasi massa, stigma semacam ini memperbesar nilai simbolik sebuah karya. Orang tidak lagi menonton karena kualitas sinematiknya, tetapi karena aura kontroversinya.

Bayangkan kalau film itu diputar bebas di kampus-kampus. Orang menonton, diskusi, lalu pulang sambil rebutan gorengan. Mungkin selesai sampai di situ. 

Tetapi, ketika pemutaran dibubarkan, film itu naik kelas menjadi mitologi penindasan oleh akamsi (anak kampung sini, oleh bangsa sendiri), maka film ini heboh. 

Dengan demikian film Pesta Babi berubah menjadi simbol gerakan kemerdekaan orang Papua. Memang simbol lebih lama menginap dalam ingatan penonton. 

Frasa “film itu dilarang tentara” jauh lebih kuat daripada trailer paling mahal sekalipun. Cukup satu kalimat pendek dengan nada conspiratorial: “Eh, itu film sampai dibubarkan aparat, kenapa ya?” Atau dalam pertanyaan  Om Obi: “Veronika! Lu  su nonton film Pesta Babi ko?

Di tikungan logika, ada lentingan makna yang menggeser isu. Misalnya, karena penggunaan kata “babi”. Kata itu memang punya komoditi politik yang mahal di Indonesia. 

Kata sering dihubungkan dengan hinaan, metafora kerakusan, bahkan simbol moral yang membuat orang dalam perdebatan di televisi. Andaikan judul film itu dibalik menjadi Babi-Babi Berpesta, tafsirnya mungkin jauh lebih mengerikan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved