Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Opini: Perang Sebagai Jalan Menuju Kebenaran?

Dalam antropologi hukum, perang untuk mencari kebenaran disebut trial by combat atau pengadilan melalui duel. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Marianus Kleden 

Tetapi dari situasi yang serba berantakan seperti ini lahirlah kosmos atau keteraturan yaitu dipisahkannya terang dari gelap yang disebut siang dan malam, dipisahkannya air dari air oleh cakrawala, dipisahkannya darat dan laut, darat sebagai tempat tumbuh pepohonan dan laut sebagai area hidup ikan-ikan, dan diciptakannya  matahari untuk menguasai siang dan bulan untuk menguasai malam.  

Dalam filsafat Jawa yang disebut sangkan paraning dumadi, dikatakan bahwa dari suwung atau kekosongan mutlak dimulailah proses penciptaan atau dumadi yang mewujud dalam dua wilayah yaitu jagad gedhe atau alam semesta dan jagad cilik atau manusia. 

Singkatnya, harmoni atau keteraturan lahir dari ketidakteraturan purba. Turunannya yang lebih kecil bisa disimak dalam pantun Melayu: berakit-rakit ke hulu/ berenang-renang ke tepian/ bersakit-sakit dahulu/ bersenang-senang kemudian. 

Dengan kata lain kesenangan atau kebahagiaan lahir dari perjuangan yang menyakitkan. 

Dalam cara pandang Lamaholot, perang dan pertumpahan darah dilihat sebagai alasan bagi kesuburan tanah dan kelangsungan penghidupan. 

Simak kata-kata berikut: Hide nin lakan ekan/Ta’an mei goka worak durut/Bau’ balan tana ekan/Tubak mula tawa gere de bangin/lolon bangarenga/puhun kokoreo/wuan bakalikat. 

Terjemahannya kira-kira begini: Demi menjaga ladang dan huma/marilah kita menumpahkan darah/memberi minum kepada bumi/Tanaman biar bertumbuh subur/daunnya meriap lebat/bunganya bergerumbul semarak/buahnya bergelantungan sarat. 

Dengan kata lain, kesejahteraan hidup atau harmoni kosmik lahir dari situasi ‘chaos’ yaitu perang dan pertumpahan darah. 

Selanjutnya kita juga bisa mengatakan, kebenaran sebagai unsur konstitutif dari kosmos juga lahir dari situasi ‘chaos’ seperti yang bisa dilihat dari ritual ‘nobe nuhung’ di Hewa, atau ‘helen tahik’ di Solor. 

Dalam ritual ‘nobe nuhung’ air biasa dimasukkan ke dalam lesung dan para pihak yang bertikai memasukkan wajahnya ke dalam air tersebut. Wajah yang disambut air mendidih adalah pihak yang bersalah, sedangkan wajah yang disambut air sejuk adalah pihak yang benar. 

Dalam ritual ‘helen tahik’ juga sama, pihak yang bertahan dalam air laut adalah pihak yang benar, pihak yang kehabisan nafas adalah pihak yang salah. 

Sampai di sini kita bertanya, apakah perang (chaos) bisa dijadikan jalan untuk mencapai kebenaran  (kosmos)? 

Secara logis bisa, tetapi karena sekarang tidak ada satu komunitas pun yang menoleransi pembunuhan untuk membuktikan kebenaran, maka kita mesti mencari cara lain dengan tiga pendekatan di atas.

Secara positivistik kita mengatakan dalam musyawarah para pihak dengan pemerintah sebagai mediator, kita bukan hanya hidup dalam kampung tetapi kita hidup dalam negara yang mengatur kita dengan hukum. 

Tetapi karena kita hidup dalam adat maka ketaatan kepada hukum positif perlu dilegitimasi dengan ketaatan kepada adat. Ketaatan kepada adat harus disubordinasikan kepada ketaatan kepada negara. 

Ketaatan kepada adat sekaligus negara tidak harus diverifikasi dengan darah, tetapi bisa juga dengan ritual non-darah, seperti bau lolon. 

Dalam ritual ini para pihak harus berkata jujur, karena kebohongan akan tampak dalam akibat-akibat buruk yang akan menimpa dirinya. (*)
 
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved