Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Opini: Perang Sebagai Jalan Menuju Kebenaran?

Dalam antropologi hukum, perang untuk mencari kebenaran disebut trial by combat atau pengadilan melalui duel. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Marianus Kleden 

Di Adonara ada sebuah falsafah hidup tentang keadilan sosial. Bila suatu marga memiliki tanah yang luas, lalu ada warga pendatang yang mencari pekerjaan di daerah itu dan hanya bisa bertani untuk menyambung hidup, maka pemilik lahan harus mengalokasikan sebidang tanah bagi si pendatang. 

Si pendatang hanya boleh menggarap tetapi di dalam hatinya dia harus mengakui dengan jujur bahwa tanah itu milik orang lain, dan sekali-kali tidak boleh membuat pernyataan publik bahwa tanah itu miliknya. 

Bila dalam waktu yang lama, beberapa generasi  kemudian, keturunan pendatang tidak tahu lagi sejarah dan mengklaim tanah itu sebagai miliknya, maka di sini masalah akan muncul. Bagaimana menyelesaikannya akan didiskusikan pada bagian akhir. 

Pendekatan sosial kritis melihat sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan sosial dan berniat mengubah kondisi sosial dengan membongkar ketidakadilan dan struktur kekuasaan. 

Pak Anton Doni, Bupati Flotim, melihat bahwa perang yang terjadi sekarang sudah menyalahi aturan perang tradisional untuk mencari kebenaran. 

Dalam antropologi hukum, perang untuk mencari kebenaran disebut trial by combat atau pengadilan melalui duel. 

Di sini para pihak yang bertikai mengangkat sumpah berdasarkan Kitab Suci atau ajaran adatnya tentang apa yang menjadi haknya. 

Pihak yang bertikai harus berkekuatan sama, menggunakan persenjataan yang sama, dan siapa yang kalah atau terbunuh diyakini sebagai pihak yang salah dan pihak yang menang dipercaya sebagai pihak yang benar.

Mungkin yang ditengarai Pak Anton adalah tidak adanya sumpah bersama, tidak adanya kesetaraan dalam kekuatan personel dan tak adanya kesepakatan tentang persenjataan yang dipakai. 

Kelemahan dari pendekatan ini ialah bahwa nilai dan norma yang hendak diintroduksikan sebagai unsur pembaruan bisa saja asing bagi pihak sasaran, demikian pula  format baru yang hendak menggantikan format lama yang tidak adil sering kali tidak bisa dirumuskan dengan jelas. 

Misalnya apakah kita perlu mendesain perang adil yang setara dalam kekuatan tetapi mengurbankan nyawa, sementara pembunuhan kini tak lagi diterima oleh komunitas mana pun di dunia ini. 

Terakhir adalah kritik novelis Ambuga bahwa perang untuk mencari kebenaran adalah fiksi belaka. 

Bila kita melihat sejarah perang dan filsafat perang, sesungguhnya perang sebagai sarana mencari kebenaran bukan fiksi melainkan sesuatu yang  lahir dari logika tertib kosmik dalam dialektikanya dengan ‘chaos’. 

Contoh yang paling jelas bisa dilihat dari kisah penciptaan dari berbagai tradisi, termasuk tradisi Yahudi yang kita baca dalam Kitab Kejadian 1:2. 

Situasi ‘chaos’ dilukiskan sebagai ‘bumi belum  berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudra raya’. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved