Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Dolar Menguat dan Rapuhnya Ketahanan Indonesia

Pelemahan rupiah yang terus terjadi sering dipahami sekadar sebagai fluktuasi ekonomi biasa atau persoalan pasar valuta asing. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Ketergantungan terhadap impor energi, teknologi, bahan baku industri, dan kebutuhan pangan strategis membuat pelemahan rupiah cepat berdampak pada sektor domestik. 

Ketika dolar menguat, biaya produksi meningkat, harga barang naik, dan daya beli masyarakat perlahan menurun.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga memengaruhi ruang fiskal negara. 

Pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk pembayaran utang luar negeri, subsidi energi, dan stabilisasi ekonomi jangka pendek. 

Akibatnya, ruang pembangunan di sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan infrastruktur menjadi semakin terbatas.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih belum cukup kuat menghadapi tekanan global. 

Industrialisasi belum sepenuhnya matang, hilirisasi belum merata, dan ketergantungan terhadap impor strategis masih tinggi. 

Karena itu, penguatan dolar seharusnya menjadi momentum evaluasi untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui penguatan industri nasional, ketahanan pangan dan energi, serta diversifikasi perdagangan internasional.

Krisis Ekonomi dan Ancaman Stabilitas Nasional

Krisis ekonomi pada dasarnya tidak pernah berhenti pada persoalan angka statistik. 

Ketika tekanan ekonomi mulai dirasakan masyarakat secara langsung, dampaknya dapat berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan institusi negara. 

Ancaman terbesar dari penguatan dolar bukan hanya inflasi, tetapi potensi lahirnya instabilitas sosial dan politik akibat meningkatnya tekanan ekonomi masyarakat.

Indonesia pernah mengalami situasi serupa pada Krisis Moneter Asia 1997–1998. 

Runtuhnya rupiah terhadap dolar pada saat itu bukan hanya menghancurkan stabilitas ekonomi, tetapi juga mengguncang legitimasi politik nasional. 

Dalam kondisi penuh tekanan, masyarakat cenderung menerima berbagai narasi sederhana tentang penyebab krisis, mulai dari isu konspirasi asing hingga permainan pasar internasional.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep diversionary tactics dalam politik internasional, ketika elite politik menggunakan isu eksternal untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan domestik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved